Biaya Nongkrong Kian Mahal, Bikin Orang Enggan Bertemu
Lonjakan biaya hidup memunculkan fenomena baru yang dikenal sebagai friendflation, yakni kondisi ketika seseorang mulai mengurangi frekuensi bertemu teman karena tingginya biaya makan, transportasi, hingga aktivitas hiburan. Fenomena ini dilaporkan terjadi di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, India dan Korea Selatan.
Berdasarkan hasil survei yang dirilis AlbaCheonguk, sebanyak 93 responden mengaku merasa terbebani dengan biaya untuk bertemu atau berkumpul bersama teman akibat kenaikan harga, dan hampir separuh di antaranya mengatakan beban tersebut sering mereka rasakan. Demikian hasil survei platform pencarian kerja tersebut terhadap 601 responden Generasi Z yang dirilis pada 10 Juli 2026, dikutip dari Asia Business Daily, Minggu (19/7).
Baca Juga:Krisis Selat Hormuz, Bos IEA Wanti-wanti Ekonomi Global dalam Bahaya
6 Fakta MBG Dihentikan Selama Libur Sekolah, Hemat Anggaran Rp3 Triliun hingga Diprotes Pengusaha
Survei tersebut menunjukkan tekanan ekonomi mulai mengubah pola pergaulan generasi muda. Sebanyak 71,2 responden mengaku mengurangi pengeluaran untuk aktivitas bersama teman dalam satu tahun terakhir. Dari jumlah itu, 83,9 memilih mengurangi frekuensi pertemuan sebagai cara menghemat pengeluaran.
Biaya makan menjadi pengeluaran yang paling membebani saat berkumpul dengan teman. Sebanyak 78,4 responden menyebut biaya makan sebagai pengeluaran terbesar, disusul biaya kopi dan makanan penutup 40,1, minuman beralkohol 29,7, hadiah ulang tahun atau perayaan 25,8, biaya transportasi 22,4, serta kegiatan hiburan seperti konser dan pameran 20,6.Mayoritas responden mengaku menghabiskan sekitar 30.000 hingga 50.000 won untuk sekali bertemu teman. Namun, sekitar sepertiga responden menyatakan mulai merasa keberatan apabila biaya yang harus dikeluarkan melebihi 50.000 won dalam satu kali pertemuan.
Fenomena friendflation merupakan gabungan dari kata friend (teman) dan inflation (inflasi). Istilah ini menggambarkan meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan hubungan sosial di tengah kenaikan harga kebutuhan hidup. Dampaknya, banyak orang mulai lebih selektif menghadiri acara sosial, mulai dari nongkrong di kafe, pesta ulang tahun, reuni, hingga acara kantor.Tekanan biaya juga memengaruhi pilihan pergaulan. Dari responden yang mengurangi pengeluaran, sebanyak 88,8 mengaku lebih dulu membatasi pertemuan dengan teman sekolah atau teman sebaya. Sementara itu, 56,4 responden menilai teman yang gemar mengajak makan di restoran mahal menjadi tipe teman yang paling membebani secara finansial. Selain itu, ajakan untuk berkumpul sambil minum minuman beralkohol atau terlalu sering bertemu juga dinilai meningkatkan tekanan pengeluaran.
Baca Juga: Setelah 4 Bulan Tenang dan Nyaman, Arab Saudi Kembali Dibombardir Iran
Fenomena friendflation tidak hanya dipicu inflasi, tetapi juga berkembangnya budaya experience consumption atau konsumsi berbasis pengalaman yang diperkuat media sosial. Keinginan mengikuti tren kuliner, tempat nongkrong, hingga destinasi wisata yang ramai dibagikan di media sosial membuat biaya bersosialisasi semakin tinggi.
Kondisi tersebut mendorong perubahan cara masyarakat membangun hubungan sosial. Alih-alih memaksakan gaya hidup yang melebihi kemampuan finansial, semakin banyak orang memilih terbuka mengenai kondisi ekonominya dan mencari alternatif kegiatan yang lebih sederhana, seperti berkumpul di rumah, piknik di ruang terbuka, atau memilih tempat makan yang lebih terjangkau.
Adapun tekanan inflasi saat ini tidak hanya memengaruhi konsumsi rumah tangga, tetapi juga mulai mengubah pola interaksi sosial masyarakat. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, menjaga hubungan pertemanan kini tidak hanya mempertimbangkan soal waktu tetapi juga kemampuan finansial.










