Kasus Febrie Adriansyah, Pengamat: Sapu Kotor Tak Bisa Bersihkan Korupsi

Kasus Febrie Adriansyah, Pengamat: Sapu Kotor Tak Bisa Bersihkan Korupsi

Nasional | sindonews | Rabu, 15 Juli 2026 - 06:32
share

Pengamat Kepolisian Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menilai semangat pemberantasan korupsi tidak boleh bergantung pada satu figur, termasuk mantan Jampidsus Febrie Adriansyah yang telah ditetapkan tersangka. Penegakan hukum harus tetap berjalan tanpa melihat siapa pelakunya.

Pernyataan itu disampaikan Bambang saat menanggapi pandangan Analis Kebijakan Publik Said Didu dalam program Rakyat Bersuara iNews, Selasa (14/7/2026).

Baca juga: Febrie Adriansyah Dicegah ke Luar Negeri

Said Didu menilai Febrie merupakan sosok yang berani membongkar berbagai kasus korupsi besar. Dia khawatir kasus hukum yang menjerat Febrie dapat memadamkan semangat pemberantasan korupsi di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Bambang menilai pemberantasan korupsi tidak boleh bergantung pada individu tertentu. “Problemnya sekarang Bung Said, kita seolah seperti yang tadi disampaikan, kita tergantung pada sosok seorang. Terlalu tergantung pada sosok Febrie Adriansyah. Semangat itu siapa pun harus semangat,” ujar Bambang.Dia mengibaratkan pemberantasan korupsi tidak bisa dilakukan menggunakan sapu yang kotor. “Karena kita menyapu sesuatu yang kotor tidak bisa dengan sapu yang kotor juga,” katanya.

Menurut Bambang, apabila ada aparat penegak hukum yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi, maka proses hukum tetap harus dijalankan tanpa pengecualian.

“Yang kita lawan itu adalah para koruptor, bukan melawan lembaga, bukan melawan Kejaksaan. Tapi yang kita usut itu adalah perilaku-perilaku korup. Artinya ketika Febrie Adriansyah melakukan tindak pidana korupsi ya harus dilawan,” tegasnya.

Meski demikian, dia sepakat proses hukum terhadap Febrie tidak boleh mengendurkan upaya pemberantasan korupsi secara keseluruhan. Dia juga menyoroti pentingnya soliditas antarlembaga penegak hukum agar penanganan kasus korupsi tetap berjalan.

“Jangan sampai ini berhenti hanya sekadar salam-salaman saja. Saya setuju, jangan sampai salam-salaman ini mematikan upaya pemberantasan korupsi,” kata Bambang.

Topik Menarik