Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
Sejumlah bank sentral global terungkap terus borong emas sebagai upaya diversifikasi terhadap ketergantungan dolar Amerika Serikat (USD) yang memiliki volatilitas tinggi pasca ketegangan di Ttimur tengah. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, hasil survei World Gold Council (WGC) menunjukkan sekitar 45 bank sentral di dunia berencana terus menambah cadangan emas mereka.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat sekaligus memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Baca Juga: Indonesia Temukan Cadangan Emas Baru di Papua, Prabowo: Sangat Besar
"Tujuan utama dari bank sentral global memborong logam mulia ini adalah untuk mendiversifikasi aset ya. Di sini menghindari ketergantungan pada dolar Amerika Serikat dan sebagai aset aman yang kinerjanya itu terbukti ya pada saat krisis ekonomi harga inflasi tinggi harga emas itu adalah di atas harga inflasi," ujar Ibrahim dalam pernyataan resmi, Minggu (12/7/2026).
Ia menjabarkan, bank sentral China misalnya disebut membeli sekitar 15 ton emas pada bulan Juni 2026, yang diklaim menjadi rekor pembelian bulanan tertinggi sepanjang 2026. Sementara itu, bank sentral Polandia dilaporkan telah menambah cadangan emas hingga 82 ton selama semester pertama tahun ini.
Di sisi lain, Ibrahim menyebut cadangan emas Rusia disebut mengalami penurunan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan kebutuhan pembiayaan di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Ukraina, meski klaim tersebut belum disertai data resmi.Baca Juga: Harga Emas Dunia Mendadak Ambles Hari Ini! Investor Ramai-ramai Putar Haluan
Ia menilai, kondisi ini berpengaruh terhadap prospek harga emas dunia. Untuk perdagangan dalam sepekan ke depan, harga emas dunia diproyeksikan bergerak pada kisaran level support USD3.906 per troy ounce hingga resistance USD4.348 per troy ounce.
Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri diperkirakan berada pada rentang Rp2.570.000 hingga Rp2.800.000 per gram. Menurut Ibrahim, pembelian emas oleh bank sentral dilakukan sebagai upaya mendiversifikasi aset cadangan devisa.
Siapkan Rp500 Miliar untuk Buyback Saham, BRI (BBRI) Optimistis terhadap Prospek Pertumbuhan Jangka
Selain mengurangi eksposur terhadap dolar AS, emas dinilai tetap menjadi instrumen investasi yang mampu mempertahankan nilai ketika inflasi tinggi maupun saat terjadi gejolak ekonomi global.
"Jadi dalam sepekan emas dunia itu kemungkinan ditransaksikan di support-nya USD3.906 troy ounce, kemudian resistennya tertingginya di USD4.348 per troy ounce. Itu untuk emas dunia. Untuk logam mulia sendiri, kemungkinan ditransaksikan di support Rp2.570.000 per gram, kemudian resistennya itu di Rp2.800.000 per gram," pungkas Ibrahim.










