Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna

Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna

Ekonomi | sindonews | Senin, 29 Juni 2026 - 21:54
share

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dinilai mengubah pola ancaman keamanan di ekosistem aset digital dan kripto. Pelaku kejahatan siber kini lebih banyak menyasar faktor manusia melalui berbagai modus manipulasi psikologis dibandingkan membobol sistem teknologi secara langsung.

Fenomena tersebut mengemuka dalam diskusi "Beyond Code: The Human Side of Crypto Security" yang diselenggarakan INDODAX bersama komunitas blockchain dan pelaku industri kripto dengan tema “Security Starts With You".

"Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem pada exchange. Padahal, dalam beberapa kasus yang terjadi belakangan, pelaku justru memperoleh akses karena korban secara tidak sadar memberikan informasi penting atau mengklik tautan berbahaya yang menyerupai layanan resmi," ujar Chief Information Security Officer (CISO) INDODAX Ledy dalam pernyataannya, dikutip pada Senin (29/6/2026).

Baca Juga:Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya

Menurut Ledy, perkembangan teknologi keamanan membuat pelaku kejahatan siber mengubah pendekatan dengan mengeksploitasi sisi psikologis pengguna melalui social engineering, phishing, deepfake, hingga voice cloning berbasis AI.Laporan NordStellar mencatat pembahasan mengenai layanan Deepfake-as-a-Service (DFaaS) di forum dark web meningkat sekitar 39 sepanjang Januari hingga Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan teknologi deepfake semakin mudah diakses dan dimanfaatkan untuk berbagai modus penipuan digital.

Selain itu, teknologi AI voice cloning kini disebut mampu meniru suara asli seseorang hanya dengan sampel audio berdurasi sekitar 10 detik. Modus tersebut membuat penipuan digital semakin sulit dikenali, bahkan oleh orang-orang terdekat korban.

Ledy menjelaskan pelaku juga mulai memanfaatkan iklan palsu di media sosial, manipulasi hasil pencarian digital, hingga penyamaran sebagai layanan pelanggan resmi melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp.

"Di INDODAX sendiri kami tidak memiliki nomor WhatsApp Customer Support resmi. Seluruh layanan hanya dapat diakses melalui nomor telepon, email, maupun kanal resmi perusahaan," katanya.Baca Juga:Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan keamanan digital tidak lagi cukup hanya mengandalkan kecanggihan teknologi. Menurut dia, peningkatan cyber hygiene melalui kebiasaan memverifikasi informasi, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan menjadi faktor penting dalam perlindungan aset digital.

INDODAX menegaskan peningkatan literasi keamanan digital perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem keamanan platform. Seiring berkembangnya berbagai modus penipuan berbasis AI, edukasi mengenai social engineering, phishing, deepfake, dan penyalahgunaan identitas digital dinilai semakin penting untuk memperkuat perlindungan pengguna aset kripto di Indonesia.

Topik Menarik