Dokter Ungkap Bahaya Sering Melewatkan Sarapan, Risiko Diabetes Bisa Meningkat

Dokter Ungkap Bahaya Sering Melewatkan Sarapan, Risiko Diabetes Bisa Meningkat

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 12 Juni 2026 - 13:55
share

Banyak orang sengaja melewatkan sarapan demi menurunkan berat badan. Namun siapa sangka, kebiasaan yang dianggap sehat ini ternyata bisa berdampak pada metabolisme gula darah dan meningkatkan risiko diabetes pada sebagian orang.

Hal itu dijelaskan Dokter Adam Prabata melalui media sosial X. Menurutnya, melewatkan sarapan memang sering digunakan sebagai salah satu cara mengurangi asupan kalori untuk menjaga atau menurunkan berat badan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa metode tersebut tidak selalu aman bagi semua orang.

Baca Juga : Ini Menu Sarapan Terbaik sebelum Olahraga, Pisang dan Ubi Cilembu Juaranya

“Skip breakfast TIDAK UNTUK SEMUA ORANG,” tulis Adam dalam unggahannya.Dokter Adam menjelaskan sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tidak sarapan dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme gula darah. Salah satu penelitian yang dibahas yaitu dari Korea Selatan dengan melibatkan sekitar 12.000 responden.

Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang tidak pernah sarapan memiliki risiko 42 persen lebih tinggi mengalami resistensi insulin dibanding mereka yang rutin sarapan setiap hari. Resistensi insulin adalah kondisi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal.

Akhirnya gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan dan dapat meningkatkan risiko diabetes. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa orang yang hanya sarapan satu hingga empat kali dalam seminggu tetap memiliki risiko 17 persen lebih tinggi mengalami resistensi insulin dibanding kelompok yang sarapan setiap hari.

Baca Juga : Punya Kolesterol Tinggi? Hindari 5 Sarapan Ini Agar Jantung Tetap Sehat

Selain penelitian di Korea, terdapat juga penelitian di Jepang. Di mana disebutkan remaja yang sering melewatkan sarapan memiliki risiko 95 persen lebih tinggi mengalami prediabetes. Menurut dr. Adam, ada beberapa yang menjadi penyebab hubungan antara tidak sarapan dengan gangguan metabolisme gula.Salah satunya adalah peningkatan kadar asam lemak bebas (free fatty acid) saat tubuh berpuasa dalam waktu lama. Kondisi ini dapat mengganggu kerja insulin pada organ seperti hati dan otot.

Selain itu, melewatkan sarapan juga dapat memengaruhi ritme sirkadian tubuh yang berperan dalam mengatur berbagai fungsi biologis, termasuk pola sekresi insulin. Bahkan dampak itu juga cenderung lebih besar pada orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

“Orang yang overweight atau obesitas lebih rentan terhadap efek gak sarapan karena secara umum memiliki asam lemak bebas yang lebih tinggi di darah,” jelasnya.

Karena itu, dr. Adam mengingatkan bahwa keputusan untuk melewatkan sarapan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Ia mengimbau untuk tidak sekedar mengikuti tren diet yang sedang populer semata.

Topik Menarik