Demo Kenaikan Harga Pertamax, Aktivis 98: Ada Pergeseran Orientasi Mahasiswa

Demo Kenaikan Harga Pertamax, Aktivis 98: Ada Pergeseran Orientasi Mahasiswa

Nasional | sindonews | Jum'at, 12 Juni 2026 - 11:50
share

Aktivis 98 dan pakar maritim, Yulian Paonganan (Ongen) melontarkan kritik keras terhadap demo mahasiswa yang memprotes kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax. Menurutnya, demonstrasi tersebut menunjukkan pergeseran orientasi gerakan mahasiswa dari membela rakyat kecil menjadi membela kepentingan kelompok yang secara ekonomi lebih mampu.

Ongen, yang dikenal sebagai salah satu aktivis yang pernah merasakan langsung dinamika perjuangan politik dan gerakan mahasiswa, menilai publik perlu melihat persoalan kenaikan harga BBM secara objektif. Ia menegaskan bahwa yang mengalami kenaikan adalah Pertamax yang merupakan BBM non-subsidi, sementara BBM subsidi yang digunakan mayoritas masyarakat kecil, yakni Pertalite, tidak mengalami kenaikan harga. Baca juga:Demo Mahasiswa, Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas hingga Kerahkan Ribuan Pasukan

Menurut Ongen, fakta tersebut seharusnya menjadi pertimbangan utama sebelum mahasiswa turun ke jalan. Ia mempertanyakan alasan mahasiswa memilih memperjuangkan penurunan harga Pertamax, sementara masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini menggunakan Pertalite tetap memperoleh perlindungan dari pemerintah.

“Yang naik itu Pertamax, BBM non-subsidi. Yang dipakai rakyat kecil, Pertalite, tidak naik. Kalau mahasiswa demo karena Pertamax naik, lalu yang sedang dibela sebenarnya siapa?” ujar Ongen dalam pernyataan kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).

Dalam pandangan Ongen, gerakan mahasiswa pada dekade 1990-an memiliki karakter yang berbeda dengan sebagian gerakan mahasiswa saat ini. Ia mengingatkan bahwa ketika gelombang reformasi bergulir, mahasiswa turun ke jalan karena persoalan yang langsung menekan kehidupan masyarakat luas, seperti krisis ekonomi, melonjaknya harga kebutuhan pokok, pengangguran, dan ketidakadilan sosial.Ongen yang kerap berbicara mengenai sejarah gerakan reformasi menilai perjuangan mahasiswa pada masa itu berorientasi pada kepentingan rakyat banyak, bukan kelompok tertentu. Bahkan sebelumnya ia juga mengingatkan bahwa Reformasi 1998 merupakan proses panjang yang lahir dari keresahan sosial yang luas di tengah masyarakat.

Karena itu, ia mempertanyakan relevansi aksi demonstrasi yang berfokus pada kenaikan harga BBM non-subsidi. “Dulu kami mahasiswa turun ke jalan membela rakyat. Sekarang kok ada mahasiswa yang ingin demo membela BBM yang mayoritas digunakan kalangan mampu? Ini yang perlu dijelaskan kepada publik,” ujarnya.

Pernyataan Ongen muncul di tengah polemik kenaikan harga Pertamax yang resmi mengalami penyesuaian harga menjadi Rp16.250 per liter. Pemerintah menegaskan bahwa Pertamax merupakan BBM non-subsidi sehingga penetapan harganya mengikuti mekanisme pasar, termasuk pengaruh harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.

Sementara itu, pemerintah memastikan harga Pertalite, Biosolar, serta LPG subsidi 3 kilogram tidak mengalami perubahan. Kebijakan tersebut disebut sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah di tengah gejolak harga energi global.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, kenaikan hanya berlaku pada BBM non-subsidi. Sedangkan komoditas energi yang menjadi kebutuhan masyarakat luas tetap dipertahankan harganya.Bagi Ongen, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang seharusnya berpihak pada kelompok masyarakat yang paling rentan. Karena itu, ia mengingatkan agar energi gerakan mahasiswa tidak terseret pada isu yang menurutnya lebih banyak berdampak kepada kelompok pengguna BBM non-subsidi.

Ia menilai masih banyak persoalan yang lebih mendesak untuk diperjuangkan. Seperti pengangguran, akses pendidikan, kesejahteraan petani, nelayan, serta perlindungan masyarakat miskin di tengah tantangan ekonomi global. Baca juga:Komisi VI DPR: Kenaikan Harga BBM Dilakukan Tiba-tiba, Kami Belum dapat Informasi

Menurut Ongen, mahasiswa perlu memastikan bahwa setiap gerakan yang dilakukan benar-benar mewakili kepentingan rakyat banyak. Jika tidak, maka akan muncul persepsi bahwa demonstrasi hanya menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan kelompok tertentu.

“Kalau yang diperjuangkan adalah rakyat kecil, tentu semua akan mendukung. Tapi kalau yang diperjuangkan adalah BBM non-subsidi yang pengguna utamanya kalangan menengah ke atas, publik berhak bertanya, mahasiswa sedang membela siapa?” tegasnya.

Topik Menarik