Jago STEAM, Tim SMPK 4 PENABUR Raih Prestasi di Kompetisi Internasional
Samantha Mischa Susanto, Bertrand Antonio Ng, Celine Wijaya, Joshua Theodore Lie, Jeslyn Ingrid Kusnadi, dan Hanna Devi Aurelya Sitorus, siswa SMPK 4 PENABUR kelas delapan yang tergabung ke dalam tim “Bio-Mussenthes”, berhasil meraih prestasi dalam kompetisi Biomimicry Youth Design Challenge (BYDC) 2026.
Enam siswa tersebut berhasil mengalahkan lebih dari 200 partisipan dari berbagai negara dan berhasil menempati 1st Place in the World of SDG 3 Category, 3rd Place Globally of Middle School Division, dan 9th in the World out of all the projects combined.
BYDC pertama kali diselenggarakan 2018 dan dicetuskan oleh The Biomimicry Institute, Amerika Serikat. Bertujuan mendukung siswa dalam tim dari berbagai dunia untuk mempelajari dasar-dasar biomimikri, menyediakan platform kolaboratif guna bertukar ide dan penemuan, serta memberikan ruang virtual bagi peserta melakukan pameran dan award ceremony sebagai bentuk penghargaan telah menemukan solusi efektif dari tantangan nyata yang dihadapi masyarakat global saat ini.
Baca juga: Siswa SMA Labschool Jakarta Raih Penghargaan Tertinggi di AYIMUN Malaysia
BYDC 2026 diselenggarakan pada bulan Februari hingga Apil dan pengumuman pemenang pada 29 Mei.“Seperti nama tim “Bio-Mussenthes”, karya kami berjudul “Mussenthes” gabungan dari Mussell (kantong semar) dan Nepenthes (kerang). Dari segi desain, bentuk fisik karya kami mengikuti bentuk mussell yakni seperti kerang dan bagian dari prototipe tersebut memiliki permukaan seperti Nepenthes yang licin dan memiliki friksi rendah.” tutur Hanna mewakili tim, melalui siaran pers, Kamis (11/6/2026).
Video yang dibagikan tim melalui platform YouTube merupakan salah satu kriteria penilaian dalam kompetisi. Kriteria lainnya yang juga dinilai adalah definisi masalah, dimana tim menjelaskan permasalahan yang relevan dengan situasi saat ini.
Baca juga: Ukir Sejarah, Siswa Indonesia Raih 4 Medali di Olimpiade AI Internasional
Kahitna x Monita Tahalea Bikin Studio Indonesian Idol XIV Pecah, Penonton Kompak Nyanyi Bareng
“Ada juga bagian di mana kami menjelaskan cara mengatasi masalah tersebut menggunakan prototipe yang telah kami buat dan terbukti berhasil. Semua bagian tersebut dimasukkan dalam bentuk presentasi di Canva. Kemudian, dalam website kami menulis definisi dan cara mengatasi masalah, begitu juga di Canva dan dalam video YouTube.” jelas Hanna.
Hanna dan tim mengaku kaget dan senang dapat meraih posisi pertama dengan dua perolehan lainnya yang mengikuti.“Kami sangat kaget dan senang tentunya bisa meraih tiga penghargaan dalam kompetisi ini. Alasannya karena persiapan yang tim kami lakukan itu relatif sangat pendek hanya 1-2 bulan. Oleh karena itu, berhasil memenangkan kompetisi ini merupakan anugerah dari Tuhan dan menjadi kebanggan bagi sekolah kami.” ungkap Hanna.
Selama melakukan persiapan, Hanna dan teman-teman tim mengawali dengan mencari inspirasi makhluk hidup apa yang akan dijadikan ide dan diajukan untuk kompetisi BYDC. Selama prosesnya, setiap siswa mendapat dukungan penuh dari guru-guru di sekolah.
“Ada Sir Okky yang menjadi pendamping lomba, Miss Angel dan Miss melati yang mendampingi dalam penelitian, serta Sir Rico yang berperan sebagai penasihat dalam proyek yang kami lakukan.” ujar Hanna.
Hanna juga menuturkan bagaimana tim dapat terbentuk dan fungsi tugas masing-masing anggota.
“Awalnya tim beranggotakan dua orang yaitu saya dan Jeslyn, lalu dipilih empat anggota terbaik di bidang STEAM untuk bergabung dengan skill yang saling melengkapi tentunya.” cerita Hanna.“Kami memiliki fungsi dan tugas yang berbeda-beda dalam tim. Samantha dan Bertrand bertugas melakukan penelitian masalah, Celine penelitian rumus, Joshua penelitian mekanik, saya yang menjadi desainer dan editor, serta Jesyln yang melakukan penelitian masalah sekaligus desainer.” lanjut Hanna bercerita.
Untuk membangun chemistry yang baik dalam tim, Hanna dan teman-teman satu tim kerap kali melakukan kerja kelompok yang sudah dijadwalkan sekolah agar bisa mengerjakan proyek dengan baik. Selain itu, komunikasi juga terbangun lewat grup WhatsApp, dimana masing-masing anggota selalu membagikan informasi selama persiapan, seperti bahan-bahan dan masalah nyata yang relevan.
“Pembagian tugas masing-masing anggota yang adil dan kerja sama yang baik, menjadi kunci tim kami bisa tampil kompak.” ungkap Hanna.
Hanna menjelaskan alasan Ia dan teman-teman satu tim memilih memperdalam STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics).
“Alasannya karena di setiap barang yang kita lihat ada proses fisika dan biologi, seperti mobil yang bergerak hingga yang tak bisa dilihat kasat mata, contohnya proses terbentuknya energi. Lewat penguasaan STEAM banyak manfaat yang dapat dirasakan, misalnya kita jadi tahu bahwa microchip bisa membuat HP dan teknik dalam membangun jembatan.” tutur Hanna.
Hanna menambahkan bahwa setiap siswa harus mengubah konotasi kalau STEAM itu bidang yang susah untuk dipelajari, karena nyatanya semua hal yang ada di STEAM sekedar pemahaman dan konsep. Tidak perlu menghafal rumus, tapi dapat divisualisasikan seolah-olah melakukan kegiatan tersebut, seperti pernapasan, reaksi kimia, dan lain sebagainya.










