Fenomena FOMO, Mahasiswa Diajak Bijak Kelola Uang
JAKARTA – Di tengah maraknya fenomena fear of missing out (FOMO), gaya hidup konsumtif, hingga tren belanja impulsif di kalangan anak muda, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengajak mahasiswa untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan dan merencanakan masa depan finansial sejak dini.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, saat memberikan kuliah umum di Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Rabu (10/6/2026). Pada kesempatan yang sama, BTN dan Unpad juga menandatangani Nota Kesepahaman terkait pemanfaatan dan pelayanan produk serta jasa perbankan guna memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri perbankan.
Nixon mengatakan generasi muda saat ini memiliki tingkat kesadaran finansial yang semakin baik. Namun, mereka masih menghadapi tantangan dalam membangun kemampuan ekonomi jangka panjang dan mengambil keputusan keuangan yang tepat.
“Banyak Gen Z yang sudah sadar finansial, tetapi tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas ekonomi dan mengambil keputusan finansial yang tepat,” ujar Nixon.
Menurutnya, berbagai fenomena gaya hidup seperti doom spending, fear of missing out (FOMO), fear of other people's opinions (FOPO), hingga you only live once (YOLO) perlu diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai. Generasi muda juga diminta mewaspadai berbagai aktivitas berisiko, termasuk judi online, yang dapat mengganggu kesehatan finansial.
Nixon menjelaskan bahwa salah satu prinsip penting dalam pengelolaan keuangan adalah memahami perbedaan antara utang produktif dan utang konsumtif. Menurutnya, utang yang digunakan secara tepat dapat membantu seseorang membangun aset dan meningkatkan kesejahteraan dalam jangka panjang.
“Utang harus dihitung dengan cermat. Utang yang benar adalah ketika setelah lunas kita merasa lebih kaya karena memiliki aset yang nilainya meningkat. Jangan sampai mengambil utang untuk sesuatu yang habis sebentar, tetapi kewajibannya berjalan panjang. Misalnya, utang untuk liburan satu minggu, tetapi cicilannya lima tahun,” kata Nixon.
Investasi Jangka Panjang
Ia menambahkan, kepemilikan rumah menjadi salah satu bentuk investasi jangka panjang yang dapat mulai dipersiapkan oleh generasi muda. Pasalnya, kebutuhan hunian akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan kenaikan harga aset dari waktu ke waktu.
“Inflasi pasti akan terjadi. Karena itu, generasi muda perlu mulai merencanakan masa depan finansialnya, termasuk memiliki aset yang nilainya terus meningkat seperti rumah,” ujarnya.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, BTN terus melakukan transformasi menjadi beyond mortgage dengan menghadirkan layanan keuangan yang lebih lengkap, mulai dari produk tabungan, layanan transaksi digital melalui balé by BTN, hingga pembiayaan perumahan.
Menurut Nixon, digitalisasi juga mendorong perubahan besar dalam industri perbankan yang kini semakin terintegrasi dengan berbagai kebutuhan masyarakat.
“Dulu bank berada di belakang, sekarang bank ikut membangun ekosistem. Ke depan, sektor keuangan dan sektor riil akan semakin menyatu karena digitalisasi,” katanya.
Melalui kerja sama dengan Unpad, BTN turut memperkuat pengembangan ekosistem kampus melalui pemanfaatan layanan perbankan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan pendidikan dan riset.
Sementara itu, Rektor Unpad, Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menyambut baik kerja sama tersebut sebagai langkah memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri.
“Kerja sama ini untuk mendukung apa yang bisa kami sumbangkan bagi dunia praktis. Bersama BTN, kolaborasi dilakukan mulai dari dukungan fasilitas, magang, pendidikan, hingga pengembangan sumber daya manusia,” kata Arief.
Ke depan, BTN berkomitmen untuk terus memperluas kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi guna mencetak generasi muda yang memiliki literasi keuangan yang baik serta siap menghadapi kebutuhan industri di masa mendatang.










