Kemenag Dorong Waisak 2026 di Borobudur Jadi Ruang Spiritualitas dan Perdamaian

Kemenag Dorong Waisak 2026 di Borobudur Jadi Ruang Spiritualitas dan Perdamaian

Nasional | sindonews | Kamis, 28 Mei 2026 - 20:51
share

Puncak perayaan Waisak tahun ini kembali akan dipusatkan di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pada 31 Mei 2026 mendatang. Puluhan ribu umat Buddha diperkirakan hadir dalam momen sakral tersebut.

Kementerian Agama (Kemenag) mendukung penyelenggaraan Waisak dan mengajak umat Buddha di Jawa Tengah maupun seluruh Indonesia hadir di Candi Borobudur. Kemenag juga berharap perayaan Waisak menjadi ruang spiritualitas sekaligus penyebaran pesan perdamaian.

Baca juga: Puncak Waisak, Air Umbul Jumprit Perkuat Spirit Kejernihan Pikiran Umat Buddha

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kemenag, Supriyadi mengatakan, pemerintah berkewajiban menjamin hak beribadah seluruh umat beragama sesuai konstitusi. Karena itu, koordinasi intensif dengan berbagai pihak dilakukan agar rangkaian kegiatan berjalan lancar.

“Panitia perlu berkoordinasi dengan seluruh jajaran lembaga, kementerian, dan pemerintah daerah khususnya untuk bersama-sama mempersiapkan kegiatan agar dapat berjalan dengan baik, lancar sehingga umat Buddha juga bisa melaksanakan ibadahnya dengan hikmat,” ujar Supriyadi, dikutip Kamis (28/5/2026).

Supriyadi menjelaskan penyelenggaraan Waisak tidak hanya bersifat rutin keagamaan semata, tetapi juga menjadi wadah pengembangan spiritualitas bagi umat yang hadir.

Baca juga: Perkuat Perekonomian Daerah melalui Perayaan Waisak di Candi Borobudur

Meski kapasitas area Lapangan Kenari Zona 1 diperkirakan tidak mencapai 10.000 orang sehingga sebagian peserta berada di luar lapangan, lokasi perayaan tetap dirancang sebagai ruang publik yang inklusif untuk memberikan pengalaman spiritual di kawasan candi Buddha tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa pemanfaatan candi untuk kegiatan keagamaan dilakukan sesuai dengan peraturan kebudayaan yang berlaku.Kementerian Agama, lanjut Supriyadi, berupaya menghadirkan pendekatan spiritualitas dan kebudayaan sehingga candi benar-benar memberi manfaat bagi pengunjung.

“Tentu yang kami lakukan adalah bagaimana agar candi ini juga dipergunakan dengan pendekatan spiritualitas ber-kebudayaan. Artinya, ruang ini harus betul-betul bisa memberikan manfaat bagi setiap orang yang akan berkunjung ke Candi Borobudur,” katanya.

Mengenai makna dan semangat Waisak, Supriyadi menyoroti keunikan perayaan Waisak di Indonesia yang memiliki tradisi tersendiri dan menjadi agenda penting yang terus didukung pemerintah. Ia berharap perayaan ini dapat membangkitkan semangat persatuan, kerukunan, dan toleransi di antara umat dan masyarakat luas.

Selain memiliki nilai religius, Waisak juga memberi dampak sosial positif serta menjadi momentum penyebaran pesan perdamaian ke seluruh dunia. Tahun ini, rangkaian Waisak juga menyertakan program khusus Lentera Perdamaian.

Topik Menarik