Peluang Investasi Startup di Era Tech Winter

Peluang Investasi Startup di Era Tech Winter

Ekonomi | sindonews | Selasa, 26 Mei 2026 - 22:40
share

Berakhirnya “tech winter” global masih belum pasti. Kondisi serba tidak pasti membuat investor dan perusahaan modal ventura semakin berhati-hati dalam memilih startup yang akan didanai. Di Indonesia dan Asia Tenggara, kondisi ini mendorong banyak startup untuk lebih memprioritaskan efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan bisnis dibanding ekspansi yang terlalu agresif.

Sekadar informasi, tech winter mengacu pada periode pengetatan pendanaan yang dipicu oleh kenaikan suku bunga, ketidakpastian geopolitik, dan tekanan makroekonomi yang lebih luas sehingga meningkatkan biaya modal. Akibatnya, investor menjadi lebih selektif dan lebih fokus pada startup yang memiliki fundamental bisnis yang jelas serta potensi jangka panjang yang lebih kuat.

Laporan Indonesia Startup Report 2026 dari DiscoveryShift yang didukung GarudaSpark Innovation Hub di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia mencatat bahwa penurunan pendanaan startup lebih mencerminkan pengetatan likuiditas global dan kenaikan suku bunga AS dibandingkan pelemahan struktural ekonomi digital Indonesia.

Baca Juga: Indonesia Kalah Jauh, Menko Airlangga: Hanya Punya 25 Startup AI, Singapura Hampir 300

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa meskipun total pendanaan turun tajam dibanding periode booming 2020–2022, pendanaan tahap lanjutan (later-stage funding) masih relatif bertahan, dengan beberapa transaksi besar Seri B dan Seri C menyerap sebagian besar modal yang tersedia.Data dalam laporan menunjukkan sekitar 67 transaksi startup terjadi pada tahap awal (early stage), namun hanya 15 startup tahap seed yang berhasil melanjutkan ke pendanaan Seri A. Hal ini mencerminkan persaingan yang semakin ketat dan proses seleksi investor yang lebih ketat. Dari sisi sektor, New Retail, Fintech, dan E-commerce masih mendominasi aliran modal sepanjang 2025.

Dari Tantangan Pendanaan Menjadi Krisis Kepercayaan

Selain pengetatan aliran modal, ekosistem startup Indonesia kini juga menghadapi tantangan lain, yakni meningkatnya kekhawatiran terkait tata kelola perusahaan dan akuntabilitas para pendiri startup.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri startup diwarnai gelombang PHK massal, penutupan startup, dan langkah efisiensi agresif saat perusahaan berjuang menghadapi perlambatan pendanaan. Awalnya, sebagian besar tekanan dikaitkan dengan kondisi makroekonomi, termasuk kenaikan suku bunga dan perubahan tren investasi global.

Namun, pembahasan kini semakin bergeser pada kualitas kepemimpinan dan standar tata kelola di internal startup itu sendiri. Sejumlah kontroversi yang melibatkan pendiri startup dan tim manajemen memicu diskusi lebih luas mengenai transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan ekonomi digital Indonesia.

Meningkatnya pengawasan ini menunjukkan bahwa tantangan industri tidak lagi hanya bersifat finansial. Investor, karyawan, dan konsumen kini juga semakin memperhatikan bagaimana startup dikelola dan apakah tim kepemimpinan mampu membangun bisnis yang tangguh di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.Baca Juga: Ekonomi Digital RI Hampir USD100 Miliar, Menko Airlangga Sebut AI Mesin Pertumbuhan Baru

Investor Fokus pada Founder Kuat dan Model Bisnis Berkelanjutan di Tengah Pendanaan yang Semakin Selektif

Menurut Elisabeth Kurniawan, angel investor, peluang investasi di ekosistem startup Indonesia masih tetap menarik meskipun kondisi pasar lebih berhati-hati. “Investor sekarang tidak hanya melihat narasi pertumbuhan. Fokus saat ini lebih pada model bisnis yang berkelanjutan, profitabilitas, dan founder yang mampu menghadapi ketidakpastian,” kata Elisabeth.

Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor terpenting dalam mengevaluasi startup adalah kualitas founder itu sendiri. “Perusahaan akan melewati berbagai fase, tetapi founder yang kuat tetap menjadi faktor paling penting. Ketangguhan, kegigihan, optimisme, dan fleksibilitas dalam mengarahkan perusahaan di tengah ketidakpastian sangatlah krusial,” ujarnya.Elisabeth menambahkan bahwa investor kini juga lebih memperhatikan apakah startup benar-benar menyelesaikan masalah pasar yang relevan dan realistis untuk diselesaikan.

“Setiap perusahaan menghadapi tantangan, tetapi ada masalah yang bisa diselesaikan dan ada yang tidak. Bisnis yang sudah memiliki permintaan pasar yang terbukti dan hanya membutuhkan dukungan modal untuk memperbesar operasional umumnya merupakan peluang investasi yang lebih sehat,” jelasnya.

Menurut Elisabeth, investor masih berhati-hati karena banyak startup sebelumnya terlalu fokus pada ekspansi agresif dan pertumbuhan pendapatan tanpa membangun profitabilitas yang berkelanjutan.

"Saya melihat investasi dalam startup atau perusahaan bukan soal tumbuh cepat dengan segala cara, tetapi lebih pada bottom line, EBITDA, dan pertumbuhan profitabilitas dari tahun ke tahun,” katanya.

“Pertumbuhan pendapatan memang penting, tetapi retensi pelanggan, pengelolaan biaya, dan disiplin operasional jauh lebih penting di kondisi pasar saat ini," sambungnya.Terkait sektor yang masih memiliki peluang besar di Indonesia, Elisabeth melihat potensi berkelanjutan pada bisnis direct-to-consumer (D2C) dan brand konsumen yang menyasar kelas menengah hingga atas. “Masih ada ruang pertumbuhan di segmen menengah ke atas karena disposable income di kelompok ini terus meningkat secara stabil,” katanya.

Bagi startup yang menghadapi tantangan pendanaan pada 2026, Elisabeth menilai perusahaan sebaiknya lebih fokus memperkuat hubungan dengan pelanggan yang sudah ada dibanding mengejar ekspansi terlalu agresif.

“Startup harus fokus meningkatkan retensi dan loyalitas pelanggan, bukan hanya mengejar ekspansi dan pertumbuhan,” katanya.

“Itu pengamatan pribadi saya berdasarkan apa yang terjadi di pasar,” imbuhnya.

Meski tech winter masih berlangsung, Elisabeth tetap optimistis bahwa startup Indonesia yang memiliki model bisnis disiplin dan kepemimpinan yang tangguh akan terus menarik peluang investasi jangka panjang.

Topik Menarik