Hasan Nasbi Dorong Mahasiswa Fisip Unpas Lebih Kritis Hadapi Disrupsi Digital

Hasan Nasbi Dorong Mahasiswa Fisip Unpas Lebih Kritis Hadapi Disrupsi Digital

Nasional | sindonews | Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:39
share

Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi mengungkapkan disrupsi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Teknologi digital membuka ruang partisipasi publik yang lebih luas, mempercepat distribusi pesan, serta memberi peluang baru bagi mahasiswa untuk membangun karya, jejaring, dan usaha berbasis media digital.

“Ruang digital juga menghadirkan tantangan serius berupa hoaks, disinformasi, polarisasi opini, manipulasi emosi publik, budaya viral, hingga menurunnya kualitas percakapan di ruang publik,” ujar Hasan saat menjadi narasumber Seminar Literasi Digital yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) dan BEM Fisip Universitas Pasundan (Unpas) di Aula Kampus Unpas, Kota Bandung, Sabtu (23/5/2026).

Baca juga: Pentingnya Membangun Brand di Era Disrupsi Digital

Kegiatan tersebut mengangkat isu disrupsi komunikasi di era digital, terutama berkaitan dengan perubahan cara masyarakat memproduksi, menyebarkan, menerima, dan memaknai informasi di tengah perkembangan media sosial, kecerdasan buatan, algoritma digital, serta derasnya arus informasi publik.

Salah satu materi yang ditampilkan dalam seminar bertajuk Resep Beradaptasi bagi Mahasiswa, Hasan menekankan tiga hal penting. Pertama, mahasiswa perlu mengembangkan ketahanan kognitif dengan membiasakan diri menyaring informasi sebelum menyebarkannya, serta mengasah kemampuan berpikir kritis di atas dorongan emosional publik.

Kedua, mahasiswa perlu melakukan continuous upskilling dan reskilling dengan menguasai kecakapan non-repetitif yang sulit digantikan kecerdasan buatan, seperti penalaran tingkat tinggi, etika profesional, dan empati sosial.

Ketiga, mahasiswa perlu memegang teguh nilai luhur budaya dengan mengintegrasikan kemajuan digital dan karakter kuat yang diajarkan di Unpas, yaitu keteguhan beragama, keluhuran ilmu, dan kejembaran budaya Sunda.

Dari pemaparan tersebut, Hasan menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi banjir informasi. Ketiganya menuntut mahasiswa untuk memiliki kemampuan adaptif dalam membaca perubahan media, mengembangkan usaha berbasis komunikasi digital, serta mengelola komunikasi organisasi secara profesional.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fisip Unpas Vera Hermawan menuturkan kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi perubahan lanskap komunikasi yang semakin cepat.Disrupsi digital tidak hanya mengubah teknologi komunikasi, tetapi juga mengubah cara masyarakat berpikir, berinteraksi, mengambil keputusan, dan membentuk opini publik. “Karena itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi harus memiliki kemampuan literasi digital yang kuat, tidak hanya sebagai pengguna media, tetapi juga sebagai analis, kreator, komunikator strategis, dan penjaga etika komunikasi publik,” ujar Vera.

Ketua Himakom Fisip Unpas Muhamad Zaidan Nugraha menambahkan seminar ini diselenggarakan sebagai ruang pembelajaran bersama bagi mahasiswa agar lebih siap menghadapi realitas komunikasi digital saat ini.

“Kami melihat mahasiswa sangat dekat dengan media sosial dan ruang digital. Namun kedekatan itu harus dibarengi dengan kesadaran kritis. Melalui seminar ini, Himakom dan BEM Fisip Unpas mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak hanya aktif bermedia, tetapi juga mampu memahami dampak sosial, budaya, politik, dan etika dari setiap aktivitas komunikasi digital,” katanya.

Kegiatan Himakom dan BEM Fisip Unpas terselenggara dengan tujuan memperkuat karakter mahasiswa untuk aktif, adaptif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan ekosistem komunikasi.

Topik Menarik