Topang 60 PDB, Literasi Keuangan UMKM Masih Perlu Ditingkatkan

Topang 60 PDB, Literasi Keuangan UMKM Masih Perlu Ditingkatkan

Ekonomi | sindonews | Selasa, 19 Mei 2026 - 21:27
share

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini menjadi penopang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan keuangan dan pemanfaatan teknologi digital. Sebagian besar pelaku usaha dinilai masih minim literasi keuangan, seperti kerap mencampuradukkan uang pribadi dan bisnis, kesulitan menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), hingga belum optimal memanfaatkan ekosistem pembayaran digital termasuk QRIS.

"Kami percaya bahwa infrastruktur pembayaran digital saja tidak cukup. UMKM Indonesia membutuhkan literasi yang menyertainya," kata Chief Executive Officer PT Netzme Kreasi Indonesia (Netzme), Vicky G. Saputra, dalam pernyataannya, Selasa (19/5/2026).

Baca Juga:Angka NEET Pemuda RI Tembus 19,44, Lebih Tinggi dari Rata-rata ASEAN

Vicky menjelaskan penyediaan infrastruktur pembayaran digital saja tidak serta-merta mendorong pertumbuhan UMKM secara instan tanpa adanya pemahaman yang mendalam dari para pelaku usaha. Oleh karena itu, Netzme berkolaborasi dengan platform edukasi Ruangguru meluncurkan program "Gang Dagang", sebuah inisiatif pembelajaran berbasis permainan (gamifikasi) guna mendongkrak kapabilitas finansial dan digital para pelaku UMKM.

Program edukasi interaktif ini turut mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah DKI Jakarta. Melalui Gang Dagang, peserta tidak hanya diberikan teori konvensional, melainkan diajak menjalankan simulasi bisnis nyata melalui konsep permainan yang aplikatif dan relevan dengan aktivitas perniagaan sehari-hari.

Dalam implementasinya di lapangan, program ini mengintegrasikan ekosistem pembayaran digital milik Netzme, seperti fasilitas QRIS Soundbox dan aplikasi Kasir Digital. Selain itu, untuk memacu semangat kompetisi positif, setiap dua minggu sekali para peserta akan ditantang mengikuti Sales Race untuk meningkatkan frekuensi transaksi QRIS di gerai masing-masing yang dipantau melalui papan peringkat (leaderboard).

Kurikulum edukasi yang dihadirkan disusun secara komprehensif berdasarkan referensi akademik dan kebutuhan praktis di sektor riil. Materi pengajaran mencakup manajemen keuangan dasar, pencatatan arus kas, perhitungan keuntungan dan HPP, pengelolaan utang dan dana darurat, hingga pemanfaatan keuangan digital serta perluasan akses permodalan formal.

Baca Juga:Bazar UMKM Meriahkan Doa untuk Bangsa di Masjid Istiqlal

Sementara, Chief of Corporate Strategy & Financial Officer Ruangguru, Arman Wiratmoko, mengaku optimistis bahwa pendekatan pembelajaran berbasis gamifikasi ini dapat meningkatkan keterlibatan sekaligus daya serap para peserta secara optimal. Menurut dia, metode ini sangat efektif untuk meningkatkan retensi pengetahuan, terutama bagi para pelaku UMKM yang memiliki kesibukan tinggi dalam mengelola operasional harian.

Arman menegaskan investasi waktu dalam mempelajari literasi keuangan ini akan menjadi aset berharga bagi keberlanjutan bisnis para pelaku UMKM di masa depan. Melalui sinergi ini, diharapkan para pelaku usaha tidak sekadar mampu melakukan transaksi digital secara pasif, tetapi juga cakap memanfaatkan data transaksi tersebut untuk mengembangkan skala usaha mereka secara berkelanjutan

Topik Menarik