Perang AS-Israel Lawan Iran Bikin Badai Ekonomi ke Seluruh Dunia, Sektor Bisnis Tekor Rp441 Triliun
Badai ekonomi yang dipicu oleh perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran kini benar-benar menghantam dompet masyarakat dan korporasi global. Laporan terbaru dari Reuters mengungkapkan, bahwa konflik bersenjata dan blokade Selat Hormuz telah merugikan sektor bisnis di seluruh dunia sedikitnya USD25 miliar atau setara Rp441,1 triliun (dengan kurs Rp17,644 per USD).
Perang AS-Iran memaksa ratusan perusahaan multinasional mengambil tindakan darurat, mulai dari menaikkan harga produk, memotong produksi, melakukan efisiensi karyawan, hingga menyetop pembagian dividen kepada investor. Ekonomi Dunia kini bersiap menghadapi dampak lanjutan yang diprediksi jauh lebih mengerikan pada paruh kedua tahun ini.
Eropa Paling Berdarah-darah, Raksasa Dunia Mulai Tumbang
Berdasarkan analisis terhadap laporan keterbukaan informasi perusahaan di bursa saham AS, Eropa, dan Asia, sedikitnya 279 korporasi raksasa resmi menyatakan bahwa bisnis mereka terganggu akibat lonjakan harga bahan bakar dan kekacauan rantai pasokan imbas dari situasi di Timur Tengah.Tantangan Ketenagakerjaan RI: PRT hingga Driver Ojol Belum Seluruhnya Terlindungi Jaminan Sosial
Baca Juga: Eropa Diam-diam Borong Gas Rusia hingga Tembus Rekor, Terjebak Skenario Krisis Energi?
Benua Eropa menjadi korban paling parah akibat krisis ini. Sebanyak 130 perusahaan Eropa terpaksa memotong proyeksi keuntungan mereka, disusul oleh 61 perusahaan di Asia dan 59 di AS. Kondisi ini dipicu oleh harga energi di Eropa yang memang sudah telanjur mahal sejak mereka memangkas impor gas dari Rusia beberapa tahun lalu.
Bahkan Eropa kini bisa kehabisan bahan bakar jet dalam beberapa minggu jika pasokan minyak terus terganggu oleh perang Iran. Peringatan itu diungkap kepala Badan Energi Internasional (IEA).Baca Juga: Bos Bank Dunia Peringatkan Dampak Ngeri Penutupan Selat Hormuz: Ekonomi Global Tak Pulih Instan
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol memperingatkan konsekuensi global yang luas dari apa yang ia gambarkan sebagai “krisis energi terbesar yang pernah kita hadapi,” yang dipicu gangguan terhadap minyak, gas, dan pasokan penting lainnya yang mengalir melalui Selat Hormuz.
Kapal tanker yang membawa bahan bakar tidak dapat mencapai pelabuhan Eropa, sementara jalur alternatif yang bisa dilalui tetap terbatas, kata Birol. Menurut kepala badan tersebut, Eropa mungkin hanya memiliki persediaan bahan bakar jet selama "sekitar enam minggu", dan kecuali Selat Hormuz dibuka kembali, "kita akan segera mendengar kabar" tentang pembatalan penerbangan karena kekurangan bahan bakar.
Industri Penerbangan Jadi Korban Terbesar
Sektor transportasi udara menjadi lini bisnis yang paling menderita. Dari total kerugian global, industri penerbangan menyumbang angka kerugian terbesar, yaitu hampir USD15 miliar (sekitar Rp240 triliun) akibat meroketnya harga avtur.Kondisi ini diperparah oleh efek domino pada produk konsumen harian. CFO Newell Brands, Mark Erceg mensimulasikan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar USD5, maka biaya operasional perusahaan otomatis membengkak USD5 juta. Sementara itu, CEO McDonald's, Chris Kempczinski mengonfirmasi bahwa "tingginya harga bensin adalah akar masalah utama yang menekan daya beli konsumen saat ini."
Beberapa perusahaan pesimis menatap sisa tahun ini, dimana produsen elektronik, Whirlpool memangkas setengah dari target keuntungan tahunan dan membekukan dividen. CEO Whirlpool, Marc Bitzer menyebut situasi ini mirip dengan Krisis Finansial Global 2008.
"Konsumen kini menahan diri untuk membeli barang baru dan lebih memilih memperbaiki barang yang rusak," ujarnya.
Sedangkan Toyota memperingatkan potensi kerugian hingga USD4.3 miliar akibat disrupsi logistik global. Selanjutnya Procter & Gamble (P&G) memproyeksikan hantaman pada laba bersih mereka sebesar USD1 miliar.









