Rupiah Ambruk ke Rp17.424 per Dolar AS, Sentimen Pertumbuhan Ekonomi Belum Terasa

Rupiah Ambruk ke Rp17.424 per Dolar AS, Sentimen Pertumbuhan Ekonomi Belum Terasa

Ekonomi | sindonews | Selasa, 5 Mei 2026 - 17:15
share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (5/5/2026), turun 30 poin atau sekitar 0,17ke level Rp17.424 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa sentimen datang dari eksternal yakni pasar tetap rapuh setelah pertukaran militer yang kembali terjadi pada hari Senin, ketika pasukan AS dan Iran melancarkan serangan baru di Teluk karena kedua pihak berupaya untuk menegaskan kendali atas jalur air strategis tersebut.

“Kenaikan ketegangan tersebut secara efektif menghancurkan gencatan senjata yang rapuh dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Baca Juga: Rupiah Jeblok Tembus Lebih Rp17.400 per Dolar AS, Bos BI Cuma SenyumMiliter AS mengatakan telah menghancurkan enam kapal serang kecil Iran selama pertempuran di selat tersebut. Ketegangan meningkat lebih lanjut setelah serangan Iran menargetkan infrastruktur di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah.

Para pedagang mempertimbangkan inisiatif yang baru diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, "Proyek Kebebasan," yang bertujuan untuk membantu kapal-kapal yang terdampar di Teluk. Operasi ini berupaya untuk memandu kapal-kapal komersial melalui rute yang lebih aman dan memulihkan sebagian arus melalui Selat Hormuz.

Militer AS mengatakan telah mulai mengawal kapal-kapal melalui selat tersebut di bawah inisiatif ini, dengan pasukan Amerika secara aktif berupaya untuk membangun kembali jalur pelayaran komersial.

Para analis mencatat bahwa meskipun "Proyek Kebebasan" dapat meringankan beberapa hambatan logistik, proyek ini tidak banyak menyelesaikan konflik geopolitik yang mendasar, sehingga pasar minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan militer lebih lanjut.

Baca Juga: Rupiah Babak Belur Tembus Rp17.401 per Dolar AS Pagi Ini

Sementara itu Guncangan energi yang terjadi menambah tekanan pada bank sentral, khususnya Federal Reserve (Fed), untuk mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, atau bahkan memperketat kebijakan jika tekanan inflasi meningkat. Hal ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi, sehingga menekan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.Dari sentimen domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 secara tahunan (YoY) pada kuartal I 2026. Besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal IV tahun lalu atas dasar harga berlaku Rp6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan senilai Rp3.447,7 triliun.

Sehingga pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 apabila dibandingkan dengan kuartal I 2025 (YoY) tumbuh 5,61 persen.

Konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026. Kinerja konsumsi rumah tangga pada periode ini utamanya didorong oleh mobilitas penduduk pada momen libur nasional dan Hari Besar Keagamaan (Nyepi dan Idulfitri).

Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi serta berbagai stimulus pemerintah untuk mendorong konsumsi seperti diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate pada level 4,75 juga turut mendorong konsumsi masyarakat.

Kemudian, jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh hingga 13,14 year on year pada kuartal I 2026, diikuti peningkatan jumlah penumpang di beberapa moda transportasi seperti angkutan darat, ASDP, angkutan udara, dan angkutan laut.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.420-Rp17.460 per dolar AS.

Topik Menarik