UEA Keluar dari OPEC, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dinilai berpotensi mengubah dinamika pasar energi global di tengah ketidakpastian geopolitik dan krisis pasokan minyak dunia. Langkah tersebut muncul saat kawasan Timur Tengah masih dibayangi konflik Iran-AS yang turut mengganggu distribusi energi melalui Selat Hormuz.
"UEA sedang mempersiapkan dunia pascaperang Iran di mana permintaan minyak menurun, dan kekuatan OPEC untuk mempertahankan kendali serta disiplin akan melemah," ujar Analis Energi Ember Future, Kingsmill Bond, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (1/5/2026).
Baca Juga:Makin Mesra, Israel Kirim Senjata Laser Iron Beam ke UEA untuk Melawan Rudal Iran
UEA menyatakan keluar dari OPEC demi fokus pada kepentingan nasional dan memperluas fleksibilitas produksi minyaknya. Selama beberapa tahun terakhir, Abu Dhabi diketahui tidak puas terhadap kebijakan kuota produksi OPEC yang dianggap membatasi ambisi ekspansi energi negara tersebut.
Negara Teluk tersebut telah menggelontorkan investasi besar untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak dari 3 juta barel per hari menjadi 5 juta barel per hari pada 2027. Namun, dalam skema OPEC sebelumnya, UEA hanya diperbolehkan memproduksi sekitar 3,2 juta barel per hari meski kapasitas aktualnya telah mencapai 4,8 juta barel per hari.Para analis menilai dampak langsung keluarnya UEA terhadap pasar energi global masih tertahan, karena distribusi minyak kawasan Teluk terganggu akibat pengetatan akses di Selat Hormuz oleh Iran. Meski demikian, UEA masih mampu mengekspor sebagian minyak melalui terminal Fujairah di Teluk Oman yang berada di luar jalur Hormuz.
Baca Juga:UEA Hengkang dari OPEC, Harga Minyak Dunia Tembus USD115 per Barel
Jika konflik mereda dan jalur pelayaran kembali normal, UEA diperkirakan dapat membanjiri pasar dengan tambahan produksi sekitar 1,6 juta barel per hari atau setara 1,5 pasokan minyak global. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan harga minyak dan memperlemah pengaruh OPEC dalam mengendalikan pasar.
Meski begitu, sejumlah pihak menilai keluarnya UEA tidak akan menggoyahkan eksistensi OPEC maupun OPEC+. Mantan penasihat senior minyak Arab Saudi Mohammad al-Sabban menyebut organisasi itu masih memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan pasar dan stabilitas harga energi global.
OPEC telah bertahan menghadapi berbagai krisis sejak berdiri pada 1960-an, termasuk keluarnya sejumlah anggota seperti Qatar, Indonesia, Angola, dan Ekuador. Namun, keputusan UEA kali ini mencerminkan semakin dalamnya perbedaan geopolitik di kawasan Teluk, terutama antara Abu Dhabi dan Riyadh dalam memandang arah kebijakan energi dan hubungan dengan Iran.








