Makin Mesra, Israel Kirim Senjata Laser Iron Beam ke UEA untuk Melawan Rudal Iran

Makin Mesra, Israel Kirim Senjata Laser Iron Beam ke UEA untuk Melawan Rudal Iran

Global | sindonews | Jum'at, 1 Mei 2026 - 08:46
share

Israel dilaporkan telah mengirim sistem pertahanan laser Iron Beam ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk membantu melawan serangan rudal dan drone Iran. Ini menandai semakin "lengket"-nya aliansi rezim Zionis dengan negara Arab tersebut sejak kedua negara meneken perjanjian normalisasi hubungan yang dikenal sebagai Kesepakatan Abraham pada 2020.

Mengutip laporan dari Financial Times, Jumat (1/5/2026), dua orang yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa selain Iron Beam, Israel juga mengirimkan sistem pengawasan ringan yang disebut Spectro—yang membantu UEA mendeteksi drone yang datang, terutama drone Shahed, pada jarak hingga 20 kilometer (12 mil).

Baca Juga: Terungkap, Uni Emirat Arab Minta Bantuan Israel Tangkis Rudal Iran dengan Iron Dome

Seorang pejabat regional mengatakan bahwa pengerahan persenjataan canggih tersebut menunjukkan “nilai persahabatan UEA dengan Israel.”

Sistem laser Iron Beam, yang dirancang untuk mencegat rudal jarak pendek dan kendaraan udara tak berawak, baru-baru ini mulai beroperasi di Israel. Militer Zionis Israel pertama kali mengerahkan sistem ini awal tahun ini untuk menangkus roket dan drone yang diluncurkan Hizbullah Lebanon.

Keberadaan sistem Iron Beam dan Spectro di UEA belum pernah dilaporkan sebelumnya. Awal pekan ini, laporan media Amerika Serikat (AS) mengungkap bahwa Israel telah mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome ke negara Arab Teluk tersebut, beserta personel militer sebagai operatornya.Salah satu sumber yang dikutip dalam laporan tersebut mengatakan sistem senjata laser Iron Beam dan pasukan Israel tambahan dikerahkan ke UEA, menggambarkan kehadiran tersebut sebagai signifikan. “Jumlah pasukan yang ditempatkan di lapangan tidak sedikit,” kata sumber tersebut, merujuk pada jumlah tentara Israel di UEA.

Orang yang diberi pengarahan tentang masalah ini menggambarkan urgensi transfer senjata tersebut, mengatakan beberapa sistem masih dalam tahap prototipe atau belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam jaringan radar Israel sendiri.

Menurut laporan Financial Times, Israel juga berbagi intelijen realtime tentang persiapan pasukan Iran untuk meluncurkan rudal jarak pendek dari Iran barat menuju UEA.

Laporan tersebut mengatakan UEA menanggung beban serangan balasan Iran selama konflik yang lebih luas yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Republik Islam sejak 28 Februari lalu. Iran dilaporkan meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone ke arah Uni Emirat Arab.

Laporan itu mengeklaim sebagian besar proyektil Iran berhasil dicegat, karena UEA mengerahkan beberapa sistem pertahanan udara, termasuk peralatan yang dipasok oleh Israel.Skala serangan tersebut telah membebani persediaan pencegat di antara Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Teluk. Beberapa pencegat canggih berharga jutaan dolar per unit dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diproduksi.

Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan bahwa pada saat Iran dan Amerika Serikat menyetujui gencatan senjata, militer AS telah menggunakan sekitar setengah dari persediaan rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan Patriot.

Situasi ini telah meningkatkan permintaan akan sistem pencegatan yang lebih murah dan lebih fleksibel. Ini termasuk teknologi yang dikembangkan di Ukraina untuk melawan drone Rusia berdasarkan desain Shahed Iran, yang terbukti sulit dideteksi karena ukurannya yang kecil dan jejak panas yang rendah.

Hal ini akan memungkinkan UEA untuk mengganti kemampuan pencari panas rudal Sidewinder lama dengan "kepala pencari laser pasif", yang akan bekerja bersamaan dengan sistem pengawasan Spectro guna menandai drone Shahed untuk dicegat.

Topik Menarik