Tak Disangka! 2 Salat Ini Pahalanya Seperti Ibadah Haji
Ternyata ada salat yang pahalanya sebanding dengan pahala ibadah haji, yakni pahala salat isyraq dan salat Jumat. Kok bisa? Simak alasan dan penjelasannya berikut ini.
Salat Isyraq
Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi dan Bughyatul Mutathawwi’ disebutkan penamaan Salat Isyrâqatau Syurûq atau Thulû’, karena pelaksanaannya berkaitan dengan waktu matahari terbit (mulai memancarkan sinarnya) dan dilaksanakan saat awal waktu dhuha .Salat ini disyariatkan dan memiliki pahala sama dengan pahala haji dan umrah sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Mâlik ra dari Rasûlullâh SAW , beliau bersabda:
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
"Barangsiapa yang salat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk – dalam riwayat lain: ia menetap di masjid – untuk berzikir kepada Allâh sampai matahari terbit, kemudian ia salat dua raka’at, maka ia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.[HR at-Tirmidzi).
Hadis ini dinilai sebagai hadis hasan oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîtsish Shahîhah, IX/189 no.3403, dan Misykatul Mashâbîh, I/212 no.971, dan Shahîhut Targhîb wat Tarhîb, I/111 no.464].
Baca juga:Belum Bisa ke Tanah Suci? Ini Amalan Berpahala Setara Haji dan UmrahHadis ini juga dikuatkan dengan adanya hadis:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ:”مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ”.
Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasûlullâh SAW bersabda, “Barangsiapa mengerjakan salat Subuh di masjid secara berjamaah, lalu dia tetap berada di dalam masjid sampai melaksanakan salat sunnah (di waktu) Dhuha, maka (pahala) amalannya itu seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah secara sempurna”. [HR Thabrani)
Hadis Anas bin Mâlik ra di atas menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat salat setelah salat Shubuh berjamaah sembari berzikir kepada Allâh Azza wa Jalla sampai matahari terbit, kemudian melakukan salat dua rakaat.
Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin dalam "asy-Syarhul-Mumti’" menjelaskan salat ini dilaksanakan sesaat matahari telah terbit dan agak naik setinggi satu tombak (lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 3/158), atau berkisar 12 hingga 5 menit setelah matahari terbit.
Dahsyatnya Salat Jumat
Dalam Kitab Al-Mawaizh Al-Usfuriyah disebutkan pahala salat Jumat itu sangat dahsyat, bahkan salat Jumat disandingkan seperti Ibadah Haji 4 (empat) kali dalam sebulan.Syekh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury menceritakan kisah seseorang yang berbincang-bincang dengan ahli kubur. Al-Imam az-Zandusiti berkata: "Saya telah mendengar kalau Imam Abu Muhammad bin Abdillah bin Fadhl menyampaikan cerita pada saat beliau mengajar. Beliau bercerita dengan bahasa Persia. Cerita itu berbunyi bahwa diriwayatkan dari Al-Auza'i bahwa ia berkata, suatu hari Maisaroh bin Khunais melewati kuburan-kuburan.Ia berkata, "Semoga keselamatan tercurahkan atas kalian semua wahai Ahli kubur! Kalian telah mendahului kami dan kami akan menyusul kalian. Semoga Allah merahmati, mengampuni, dan memberkahi kami dan kalian semua pada saat menghadap-Nya, yaitu pada saat kami telah mengalami apa yang telah kalian alami."
Kemudian Allah mengembalikan ruh ke jasad salah satu penghuni kuburan tersebut. Si penghuni kuburan itu menjawab salam Maisaroh dengan perkataan yang fasih: "Beruntung sekali kalian wahai penduduk dunia! Kalian bisa melakukan Haji setiap bulan sebanyak 4 (empat) kali."
"Kemana kami melakukan Haji sebanyak 4 kali di setiap bulan? Semoga Allah merahmatimu," tanya Maisaroh.
Si penghuni kubur itu menjawab: "Berangkat salat Jumat. Apakah kalian tidak tahu kalau salat Jumat adalah seperti ibadah haji yang mabrur dan diterima?"
Maisaroh melanjutkan: "Beritahu kami amalan yang bisa kami senantiasa lakukan!"
" Beristighfarlah! Wahai penduduk dunia! Istighfar adalah sesuatu yang paling bermanfaat di Akhirat," jawab si penghuni kubur.Kemudian Maisaroh bertanya: "Apa yang membuat anda tidak menjawab salam kami tadi?"
Si penghuni kubur menjawab: "Salam merupakan kebaikan. Sedangkan kebaikan-kebaikan telah diangkat dari kami. Oleh karena itu kebaikan kami tidak akan bertambah dan keburukan kami pun juga tidak akan berkurang."
Si penghuni kuburan melanjutkan: "Kami telah meridhoimu dengan ucapanmu semoga Allah merahmati si fulan yang telah mati; untuk kami. Wahai penduduk dunia!"
Hajinya Orang-orang Fakir
Dalam satu Hadis disebutkan tentang keutamaan Jumat. Berikut bunyi hadisnya:
الجمعة حج الفقراء"Jumat adalah hajinya orang-orang fakir." (Hadis riwayat Al-Qadla'i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas)
Meski hadis ini tergolong lemah sanadnya, tetapi bisa diamalkan karena berkaitan dengan fadhail a'mal (keutamaan amaliyah) dan bukan dalam konteks penetapan hukum.
Syekh Ihsan bin Dakhlan menjelaskan, berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju salat Jumat, seperti berangkat menuju tempat Haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Dalam hadits ini memberi dorongan untuk melakukan Jumat. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-'Ibad)
Keutamaan pahala Jumat disandingkan dengan haji bukan berarti menyimpulkan ibadah haji bisa digantikan dengan Jumat. Bagi orang yang mampu, tetap berkewajiban melaksanakan haji.
Semoga Allah melimpahkan ampunan dan karunia-Nya kepada kita berkat memuliakan Jumat dan menghidupkan ibadah di dalamnya.
Baca juga:Dalil-dalil Mengumandangkan Kalimat Talbiyah bagi Jemaah Haji










