Rupiah Terpuruk ke Level Terendah Sepanjang Sejarah, Tembus Rp17.300 per Dolar AS

Rupiah Terpuruk ke Level Terendah Sepanjang Sejarah, Tembus Rp17.300 per Dolar AS

Ekonomi | sindonews | Kamis, 30 April 2026 - 08:02
share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali tertekan dan kini berada di kisaran level terendah sepanjang sejarah. Berdasarkan data perdagangan terbaru, rupiah bergerak di rentang Rp17.275 hingga Rp17.324 per dolar AS pada 29 April 2026.

Sementara itu, data pasar global menunjukkan kurs USD/IDR berada di sekitar Rp17.330 per dolar AS, dengan rentang harian yang bergerak di kisaran Rp17.215-Rp17.392. Level ini menegaskan bahwa rupiah tengah berada dalam tekanan berat, sekaligus mendekati atau melampaui rekor terlemahnya dalam sejarah modern Indonesia.

Sebelumnya, pelemahan juga tercatat ketika rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.090 per dolar AS pada awal April 2026. Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis di Tengah Isu Damai AS-Iran, Bertengger ke Rp17.211 Sore Ini

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa sentimen datang dari global yaitu upaya untuk mengakhiri perang AS-Iran tampaknya terhenti, dengan jalur air penting Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup, sehingga pasokan energi dari wilayah penghasil minyak utama di Timur Tengah tersebut tidak dapat diakses oleh pembeli global.

“Iran terlihat menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz awal pekan ini. Namun, laporan pada hari Senin menunjukkan Washington sebagian besar skeptis terhadap proposal tersebut, mengingat hal itu melibatkan penundaan pembicaraan tentang aktivitas nuklir Teheran,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba. Kombinasi kebijakan suku bunga tinggi di AS, arus modal keluar, hingga ketegangan geopolitik global menjadi pemicu utama. Dari dalam negeri, tingginya kebutuhan impor dan ketergantungan terhadap dolar turut memperparah kondisi.

Baca Juga: Daftar Mata Uang Terlemah di Dunia April 2026 Versi Forbes Advisor, Rupiah Nomor Berapa?

Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi untuk menahan laju pelemahan, baik melalui pasar valas maupun kebijakan moneter. Namun, derasnya tekanan eksternal membuat rupiah masih sulit keluar dari tren pelemahan.

Dampaknya mulai terasa luas. Harga barang impor naik, biaya produksi meningkat, dan tekanan inflasi berpotensi membesar. Selain itu, beban utang luar negeri juga semakin berat karena harus dibayar dengan dolar yang semakin mahal.

Kondisi ini menjadi sinyal serius bahwa stabilitas rupiah sedang diuji. Jika tekanan global berlanjut dan fundamental domestik tidak segera diperkuat, bukan tidak mungkin rupiah akan menghadapi fase yang lebih berat ke depan.

Topik Menarik