Tanggapi Polemik Penutupan Prodi, Mendiktisaintek: Alih-alih Menutup, Kita Kembangkan

Tanggapi Polemik Penutupan Prodi, Mendiktisaintek: Alih-alih Menutup, Kita Kembangkan

Gaya Hidup | sindonews | Rabu, 29 April 2026 - 12:30
share

Kemendiktisaintek menekankan pada pengembangan program studi (prodi) daripada penutupan prodi yang saat ini ramai diperbincangkan. Hal ini dijelaskan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.

"Alih-alih kita menutup program studi. Program studi ini justru kita kembangkan dalam artian apa? Dalam artian program studi kita dorong untuk terus melakukan update pengetahuan yang diajarkan," katanya usai Kick Off Program Bestari Saintek dan Peluncuran Program Semesta Skema Pendanaan APBN 2026, di Kantor Kemendiktisaintek, Rabu (29/4/2026).

Baca juga: Kemendiktisaintek Tegaskan Penutupan Prodi Hanya Opsi Terakhir, Bukan Pilihan Utama

Guru Besar ITB ini mencontohkan pengembangan program studi Teknik Elektro. Dulu, katanya, prodi Teknik Elektro belum mengajarkan ilmu mengenai Internet of Things (IoT) namun kini sesuai perkembangan zaman pengajaran mengenai IoT pun harus dikenalkan kepada mahasiswanya.

"Jadi alih-alih menutup prodi, yang kita dorong adalah bersama-sama dengan perguruan tinggi, Kemendikti itu membuat supaya prodi ini mengupdate secara berkala relevansi antara apa yang diajarkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi," ujarnya.Baca juga: Menjawab Tantangan Zaman: Perjalanan 19 Tahun di Balik Lahirnya Magister Psikologi Universitas Pancasila

Guru Besar Institut Teknologi Bandung atau ITB itu mencontohkan perkembangan pada program studi Teknik Elektro. Menurutnya, beberapa tahun lalu materi mengenai Internet of Things (IoT) belum menjadi bagian pembelajaran utama, namun kini teknologi tersebut wajib dikenalkan kepada mahasiswa karena telah menjadi kebutuhan industri modern.

“Jadi alih-alih menutup prodi, yang kita dorong adalah bersama-sama dengan perguruan tinggi, Kemendikti itu membuat supaya prodi ini mengupdate secara berkala relevansi antara apa yang diajarkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.

Brian menjelaskan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan berbagai industri baru. Karena itu, setiap program studi di Indonesia harus terus melakukan penyesuaian kurikulum agar lulusannya mampu bersaing di dunia kerja.

Ia menyebut proses pembaruan tersebut merupakan bagian dari continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan yang sudah diterapkan di berbagai negara.“Program studi itu continuous improvement setiap 4 tahun, bahkan setiap 2 tahun. Itu berbeda-beda, itu melakukan peninjauan kembali. Oh, apa sih teknologi terkini? Misalnya ada AI, bagaimana nih AI ini? Ada IoT, kemudian ke depan ada kuantum komputasi,” jelasnya.

Menurut Brian, perguruan tinggi harus mampu mempersiapkan mahasiswa menghadapi teknologi masa depan yang akan digunakan saat mereka lulus nanti.

“Kita harus rubah dong supaya nanti lulusannya ketika lulus, dia bekerja, itu sesuai dengan perkembangan teknologi yang 4 tahun lagi dipakai,” tuturnya.

Topik Menarik