Dari Aktivis ke Menteri, Jumhur Hidayat Disebut Punya Daya Juang Tinggi
Pegiat Sosial Politik yang juga Eksponen Angkatan Reformasi 98 Andrianto Andri mengapresiasi Presiden Prabowo Subianto yang melantik Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. Andrianto pun menilai Jumhur tepat menjadi Menteri LH.
“Kita ucapkan terima kasih. Dia harus memilih pembantu yang mempunyai rekam jejak kuat dalam berkiprah untuk perbaikan bangsa ini,” ujar Andrianto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (28/4/2026).
Menurut Andrianto, dengan kualitas dan rekam jejak sebagai aktivis yang berkarakter, Jumhur Hidayat sangat cocok dan tepat ditunjuk dan diangkat menjadi Menteri Lingkungan Hidup. “Dia bisa diharapkan akan membenahi permasalahan yang ditanganinya dengan kualitas, daya pikir, integritas, dan daya juang tinggi menghadapi para perusak lingkungan,” ujarnya.
Baca juga: Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH, Syahganda Nainggolan: Dia Akan Bertarung Lawan Oligarki
Maka itu, Andrianto menyambut baik pengangkatan Jumhur tersebut. “Sebagai kawan yang cukup lama berinteraksi dengan Jumhur Hidayat, saya sangat mengapresiasi pengangkatan beliau sebagai Menteri Lingkungan Hidup oleh Presiden Prabowo,” ujarnya.
“Saya mengenal baik Jumhur sejak di masa Orde Baru sebelum Reformasi. Lalu, sama-sama menjadi pendukung SBY dan kami sama-sama mendapat jabatan dari SBY,” kata Andri.
Pada masa Jokowi, Andri dan Jumhur mengambil jalan oposisi. Mantan Sekjen Pro Demokrasi (Prodem) itu mengungkapkan Jumhur terkenal kritis dan tanpa kompromi terhadap Jokowi, yang membuat dia ditangkap dan diadili.
One Way Diterapkan di KM 263-70, Kendaraan Arah Transjawa Diimbau Manfaat Akses Keluar Alternatif
“Lalu dia divonis bersalah dan menjalani hukuman sekitar setahun. Tetapi, itu tidak membuat dia jera. Kemudian dia menjadi ketua umum sebuah organisasi buruh dengan jutaan anggota, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI),” ujarnya.Ditambahkannya, perkenalan dengan Junhur terjadi karena Andri kenal dengan Adi Sasano, yang merupakan mentor Jumhur. “Karena dekat dengan Adi yang menjadi Menteri Koperasi di masa Habibie, kami sama-sama mendukung Habibie. Waktu itu dunia aktivis terpecah, ada yang mendukung Habibie seperti kami, ada juga menganggap bahwa Habibie hanya pepanjangan tangan Soeharto,” kata peraih gelar sarjana Ilmu Politik dari Unversitas Nasional (Unas) itu.
Sejak itulah, mereka bersama-sama melakukan kerja sama strategis. Pada era SBY Jumhur masuk sebagai pendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan diangkat menjadi Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI}.
“Sedangkan saya awalnya beroposisi terhadap SBY, tetapi pada periode kedua SBY, karena dekat dengan Hatta Rajasa, menteri SBY, saya masuk jadi pendukung dan diberikan jabatan sebagai Komisaris PT JICT Pelabuhan Indonesia II,” tambahnya.
Di era Jokowi, di periode pertama, Jumhur terang-terangan mendukung Jokowi. Dia malah rela jabatannya di BNP2TKI dicopot SBY karena aktivitasnya mendukung Jokowi.
“Sedangkan saya di berada kelompok pendukung Prabowo-Hatta pada Plpres 2014. Jokowi menang tetapi Jumhur tidak dapat apa-apa. Akhirnya kita kembali bersama-sama beroposisi terhadap Jokowi,” kata peraih gelar megister ilmu administrasi negara dari Universitas Prof Dr Mustopo itu.Dilanjutkan, pada masa Jokowi, dia dan Jumhur terlibat dalam pembentukan organisasi yang beroposisi terhadap Jokowi, yaitu Komite Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Andri sebagai ketua panitia deklarasi, sedangkan Jumhur menjadi tokoh pada 2020 di Tugu Proklamasi.
“Kita terlibat dalam demo besar menentang pengesahan UU Omnibus Law. Jumhur bersama Syahganda Nainggolan dan Anton Permana ditangkap polisi dan diadili dengan dijatuhi vonis hukuman setahun,” jelasnya.
Di era Prabowo, kata Andri, Jumhur kembali ke pemerintahan. “Ini membanggakan dan memang seharusnya terjadi. Negeri ini sangat membutuhkan Jumhur baik ide maupun gerakannya,” ujarnya.
Menurut dia, Jumhur punya daya krisis, daya juang yang mengagumkan, dan imajinasi tentang keadilan yang sangat tinggi. “Saya haqqul yaqin, sebagai kawan, melihat Jumhur punya potensi membantu Prabowo, apalagi di bidang lingkungan hidup yang sangat membutuhkan figur yang mempunyai idealisme yang tinggi,” ucapnya.
Dia menilai Jumhur cocok berada di sana, mengingat negeri ini sangat tinggi dalam kerusakan lingkungan. “Kerusakan lingkungan akibat keserakahan para pemilik modal membuat terjadi bencana, seperti banjir bandang dan longsor di Sumatera yang sangat menghancurkan itu. Begitu juga bencana di Pulau Jawa, Kalimantan dan pulau-pulau lain. Di Sulawesi dan Halmahera lingkungan rusak oleh pertambangan liar,” tambahnya.
Dia berpendapat, dibutuhkan figur yang kuat dan integritas untuk merehabilitasi lingkungan hidup Indonesia dan dikembalikan fungsinya. Dia menambahkan, alam ini harus dilestarikan karena dia merupakan warisan anak cucu yang akan menempati dunia ini setelah kita.
Karena itu, menurut dia, alam ini tidak boleh diekspoitasi secara berlebihan sehingga dia kehilangan daya tampung untuk kehidupan anak cucu mendatang. “Karena itu kita apresiasi Pak Prabowo yang sudah menunjuk Jumhur sebagai Menteri Lingkungan Hidup. Beliau memilih pembantu yang tepat di bidang itu. Kita ucapkan terima kasih. Dia harus memilih pembantu yang mempunyai rekam jejak kuat dalam berkiprah untuk perbaikan bangsa ini,” pungkasnya.










