Selat Hormuz Lumpuh, Bahan Bakar Minyak Rusia Mengalir Deras ke Singapura
Impor bahan bakar minyak (BBM) Rusia ke Singapura melonjak tajam diproyeksikan mencetak rekor tertinggi pada April 2026. Lonjakan ini terjadi di tengah krisis pasokan global akibat perang di Iran dan terganggunya jalur utama energi di Selat Hormuz.
"Rasa sakit belum terasa, tapi masalah pasokan hampir pasti muncul dalam beberapa minggu mendatang," ujar Analis Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu dikutip dari Futubull Financial, Minggu (25/4/2026).
Baca Juga:Iran Tak akan Izinkan Siapa Pun Ekspor Minyak dari Timur Tengah jika Teheran Tidak Bisa
Data perusahaan analitik energi Vortexa menunjukkan impor bahan bakar Rusia ke Singapura lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata bulanan 2025. Volume pengiriman bahkan diperkirakan mencapai level tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2016.
Peningkatan ini terjadi saat pasokan dari kawasan Teluk mengalami penurunan signifikan. Kedatangan harian minyak dari Timur Tengah turun sekitar 36, dari 522.000 barel per hari (bph) pada awal tahun menjadi 336.000 barel per hari pada Maret-April.Sebaliknya, pasokan dari Rusia meningkat tajam dari 372.000 menjadi 585.000 bph dalam periode yang sama, mengisi kekosongan akibat terganggunya distribusi minyak dari Timur Tengah.
Gangguan pasokan dipicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada awal Maret disebut Badan Energi Internasional sebagai salah satu gangguan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Jalur tersebut sebelumnya menopang sekitar 20 perdagangan minyak dunia.
Di tengah krisis, pemerintah Amerika Serikat memberikan pengecualian sementara terhadap sanksi minyak Rusia untuk menjaga stabilitas pasokan. Kebijakan ini turut mempercepat peralihan arus perdagangan energi ke Rusia, meski masa berlakunya terbatas.
Baca Juga:Daftar Mata Uang Terlemah di Dunia April 2026 Versi Forbes Advisor, Rupiah Nomor Berapa?Lonjakan permintaan juga mendorong kenaikan harga bahan bakar kapal (bunker fuel) secara signifikan. Singapura sebagai pusat pengisian bahan bakar kapal global bahkan rela membayar premi tinggi, yang berdampak pada pengalihan pasokan dari pasar lain, termasuk Eropa.
Perubahan ini tidak hanya terjadi di Singapura. Sejumlah negara Asia lainnya mulai meningkatkan impor energi dari Rusia, menandai pergeseran besar dalam rantai pasok global yang semakin dipengaruhi dinamika geopolitik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konflik Iran tidak hanya berdampak pada harga energi, tetapi juga mempercepat realokasi sumber pasokan global, dengan Rusia menjadi salah satu pemasok utama bagi pasar Asia di tengah krisis.










