Peran Perempuan Kian Strategis di Industri Migas
Perempuan semakin menunjukkan peran strategis di industri minyak dan gas (migas). Semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini kini tercermin dalam kiprah peremp szhhuan yang turut menjaga keberlanjutan energi nasional.
"Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang," pesan R.A. Kartini yang terus menginspirasi perempuan Indonesia lintas generasi.
Baca Juga:Indonesia-Korsel Garap Kerja Sama Migas, Incar Sumber Daya di Laut Lepas
Di lapangan migas, kehadiran perempuan memang masih menjadi minoritas, namun kontribusinya kian nyata dan signifikan. Mereka tidak hanya mengisi peran administratif, tetapi juga terlibat langsung dalam operasional produksi yang menuntut ketelitian, ketangguhan, serta pengambilan keputusan cepat di situasi kritis.
Salah satunya terlihat dari peran Nadia Silvia yang bertugas sebagai operator di Stasiun Pengumpul Bambu Besar Pertamina EP Field Subang. Ia memastikan proses produksi minyak dan gas bumi berjalan optimal melalui pengawasan ketat terhadap aliran produksi.Di sisi lain, Andi Nandayani menjalankan peran sebagai plant operator di fasilitas Zulu Flowstation milik Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java. Bekerja di lingkungan lepas pantai, ia bertanggung jawab menjaga keselamatan operasional sekaligus merespons potensi risiko secara cepat dan tepat.
Peran perempuan juga terlihat dalam fungsi pendukung operasional. Syifa Khairunnisa, misalnya, mengemban tugas sebagai junior officer warehouse and distribution di Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatra. Ia memastikan ketersediaan dan distribusi material berjalan efisien guna mendukung kelancaran produksi.
Sementara, di fasilitas offshore, Chagita Salisa Nabillah tampil sebagai chief operator produksi di PHE OSES. Ia memimpin jalannya produksi di tengah tantangan lingkungan laut, sekaligus menjadi salah satu figur perempuan yang membuka jalan bagi keterlibatan lebih luas perempuan di sektor energi.
Baca Juga:Selat Hormuz Pasca Ali Khamenei dan Implikasinya ke Energi Migas Indonesia
Kehadiran para "Kartini Migas" ini mencerminkan perubahan nyata dalam industri energi nasional, di mana perempuan tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari penggerak operasional. Momentum Hari Kartini menjadi pengingat bahwa kesetaraan peran terus berkembang, termasuk di sektor strategis seperti migas.
Perusahaan energi nasional seperti Pertamina terus mendorong terciptanya lingkungan kerja yang inklusif dan setara. Upaya ini diharapkan mampu membuka lebih banyak peluang bagi perempuan untuk berkontribusi dan memperkuat ketahanan energi nasional.










