MBG Fondasi Utama Cetak Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

MBG Fondasi Utama Cetak Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 25 April 2026 - 19:57
share

Menyongsong visi Indonesia Emas 2045, kualitas penduduk menjadi taruhan utama. Dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 282 juta jiwa, tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia bukan sekadar jumlah, melainkan bagaimana menciptakan bonus demografi yang unggul secara fisik dan kognitif.

Salah satu program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi fondasi utama untuk membangun kualitas SDM anak-anak Indonesia melalui intervensi pemberian gizi.

Dokter Spesialis sekaligus edukator kesehatan, dr. Andi Khomeini Takdir, Sp.PD atau yang akrab disapa dr. Koko, menegaskan dukungannya terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai program ini sebagai langkah konkret pemerintah dalam memenuhi kecukupan gizi nasional.

"Bonus demografi itu bukan hanya perihal jumlah penduduk, tapi juga kualitasnya. Upaya pemerintah untuk memberikan kecukupan gizi itu bagus, dan dari awal saya selalu mendukung itu," ujar dokter Koko seperti dikutip, Sabtu (25/4/2026).

Baca Juga:MBG Dongkrak Kepuasan Publik, Pengamat: Perketat Tata Kelola dan PengawasanPernyataan dr. Koko sejalan dengan temuan Poltracking Indonesia dalam survei terbarunya. Hasil survei menunjukkan bahwa program MBG merupakan salah satu program pemerintah yang mendapatkan ekspektasi dan dukungan publik paling tinggi. Masyarakat melihat program ini sebagai solusi nyata bagi keluarga menengah ke bawah untuk menjamin kebutuhan makan anak-anak mereka, minimal sekali dalam sehari.

Menariknya, dr. Koko menekankan bahwa pemenuhan gizi tidak harus dibuat rumit. Ia menyarankan agar tata kelola program tetap akuntabel, namun simpel dalam penyajiannya.

"Kembali ke dasar. Nasi, ikan, sayur, telur, atau ayam suir itu sudah cukup. Jangan dibuat rumit. Anak-anak yang rutin mengonsumsi MBG akan terlatih lidahnya (taste education) sehingga tidak jadi pilih-pilih makanan (picky eater) juga," jelasnya.

Data dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) memperkuat poin ini. Survei RISED menunjukkan bahwa sekitar 80 orang tua melaporkan perbaikan pola makan anak setelah adanya program MBG.Baca Juga: Kepala Bappisus Ungkap 1.700 SPPG Di-suspend karena Kurangi Porsi MBG

Selain itu dengan memperkenalkan sayur dan buah sejak dini, anak-anak menjadi lebih terbiasa makan sayur dan protein, yang dalam jangka panjang menurut dr. Koko, akan sangat efektif mengurangi risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas sejak dini.

Kendati memiliki dampak dan manfaat yang luas, dr. Koko menyadari bahwa program ini masih perlu masukan dan perbaikan. Sebagai program berskala masif yang memberi makan jutaan orang, dr. Koko menyadari adanya kendala teknis di lapangan. Namun, ia mengajak masyarakat untuk melihatnya sebagai sebuah proses besar yang perlu dikawal bersama.

"Kita akan berproses; tidak serta-merta program ini 100 persen bagus. Peran masyarakat adalah menjaga itu. Jika ada masukan atau kritik soal keterlambatan atau kualitas menu, pengelola jangan 'kebakaran jenggot'. Kritik itu bukan permusuhan, tapi bahan evaluasi agar ada perbaikan berkelanjutan," tambahnya.

Harapan Keberlanjutan

Meskipun anggaran per porsi mungkin terbatas, dr. Koko yakin dampaknya akan terasa secara akumulatif. "Apalagi ini akumulasi, setiap hari selama berbulan-bulan, bertahun-tahun. Dampaknya pasti ada daripada tidak ada sama sekali."

dr. Koko juga menambahkan agar program ini dijaga keberlanjutannya. Dengan kolaborasi antara Satuan Pelayanan Makanan Bergizi (SPPG), pemerintah, dan pengawasan masyarakat, Makan Bergizi Gratis diharapkan menjadi motor penggerak lahirnya generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan tangguh pada 2045.

Topik Menarik