Blokade Selat Hormuz, Pendapatan Minyak Arab Saudi Anjlok Rp1,6 Triliun per Hari
Lonjakan harga minyak global di tengah konflik Iran ternyata tidak sepenuhnya menguntungkan negara produsen Teluk. Arab Saudi justru mengalami penurunan pendapatan harian minyak akibat anjloknya volume produksi imbas gangguan di Selat Hormuz.
"Pendapatan harian minyak Arab Saudi turun sekitar USD93 juta atau setara Rp1,6 triliun dibandingkan sebelum perang, meskipun harga minyak melonjak," demikian hasil analisis House of Saud.
Baca Juga:Dua Tanker Raksasa Iran Berhasil Tembus Blokade AS, Boyong 4 Juta Barel Minyak
Dikutip dari CNBC, kenaikan harga minyak mentah jenis Brent yang sempat menembus di atas USD100 per barel dipicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk aksi penyitaan kapal dan batalnya perundingan damai oleh Iran. Namun, lonjakan harga tersebut tidak mampu menutup dampak penurunan produksi minyak Arab Saudi yang turun sekitar 30, dari 10,4 juta barel per hari menjadi sekitar 7,25 juta barel per hari.
Jelang Puncak Arus Balik, Pemerintah Minta Pengusaha Angkutan Logistik Patuhi Aturan Pembatasan
Penurunan produksi tersebut terutama dipengaruhi oleh gangguan distribusi akibat ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Kondisi ini menciptakan paradoks fiskal, di mana harga tinggi tidak serta-merta berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan.
Untuk kembali ke tingkat pendapatan sebelum konflik, Arab Saudi diperkirakan membutuhkan harga minyak Brent di kisaran USD115 per barel. Namun, level tersebut dinilai sulit bertahan dalam jangka panjang di tengah ketidakpastian pasar global.
Lembaga keuangan Goldman Sachs bahkan memproyeksikan defisit fiskal Arab Saudi pada 2026 bisa mencapai 6,6 dari produk domestik bruto (PDB), jauh di atas proyeksi resmi pemerintah. Defisit tersebut diperkirakan mencapai USD80-USD90 miliar lebih tinggi dari anggaran sebelumnya sekitar USD44 miliar.
Baca Juga:Blokade AS Runtuh, 34 Kapal Hantu Iran Menyelinap Bawa Minyak Senilai Rp15,6 Triliun
Di sisi lain, Oman mencatat kinerja yang relatif lebih baik. Pendapatan minyak negara tersebut dilaporkan meningkat seiring lonjakan harga minyak patokan Oman yang sempat menyentuh USD124 per barel. Meski demikian, volume ekspor kawasan Teluk secara keseluruhan masih terbatas.
Sementara itu, Amerika Serikat justru memanfaatkan situasi ini dengan meningkatkan ekspor minyak mentah. Data menunjukkan ekspor minyak AS berpotensi mencapai rekor baru sekitar 5,44 juta barel per hari, didorong permintaan dari Asia dan Eropa yang mencari alternatif pasokan.
Meski sejumlah perusahaan energi global menikmati keuntungan besar akibat lonjakan harga, kondisi ini tidak merata bagi semua produsen. Arab Saudi menghadapi tekanan fiskal akibat kombinasi harga tinggi dan volume produksi yang rendah, memperlihatkan kompleksitas dampak konflik terhadap pasar energi global.










