Pasar Minyak Global Kembali Terguncang, Taruhan Rp13 Triliun Terjadi Beberapa Menit Sebelum Pembukaan Selat Hormuz
Pasar minyak global kembali diguncang aksi jual kontrak berjangka Brent senilai USD760 juta atau setara Rp13 triliun terjadi hanya beberapa menit sebelum pengumuman pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Pemerintah Iran pada Jumat (17/4). Transaksi dengan penempatan waktu yang sangat presisi ini memperkuat pola perdagangan mencurigakan yang kini tengah menjadi sorotan tajam regulator dan legislator Amerika Serikat (AS).
"Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa periode gencatan senjata tersebut," tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam unggahannya di X, dikutip dari The Economics Times, Selasa (20/4/2026).
Baca Juga:Dunia Kehilangan Produksi Minyak Rp856 Triliun Imbas Perang Iran, Dampaknya Bertahun-tahun
Data LSEG menunjukkan, antara pukul 12.24 hingga 12.25 GMT hanya 20 menit sebelum unggahan Araghchi, para pelaku pasar telah melepas gabungan 7.990 lot kontrak berjangka Brent. Sesaat setelah pengumuman resmi tersebut keluar, harga minyak mentah langsung merosot tajam hingga 11, yang memberikan keuntungan besar bagi pihak yang melakukan posisi jual (short) sesaat sebelumnya.
Insiden ini menambah panjang daftar spekulasi yang dinilai mencurigakan terkait konflik di Timur Tengah. Sebelumnya pada 7 April, taruhan senilai USD950 juta atau setara Rp16,2 triliun ditempatkan hanya beberapa jam sebelum AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Hal serupa terjadi pada 23 Maret, di mana investor menjual kontrak minyak senilai USD500 juta atau setara Rp8,5 triliun tepat 15 menit sebelum Presiden Trump menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) dilaporkan telah memulai penyelidikan terhadap transaksi di platform yang dioperasikan oleh CME Group dan Intercontinental Exchange. Kedua bursa tersebut telah diminta untuk menyerahkan dokumen relevan guna melacak entitas di balik perdagangan yang sangat menguntungkan tersebut. Tekanan politik pun meningkat, terutama dari anggota parlemen Partai Demokrat yang mendesak tindakan tegas terhadap potensi eksploitasi informasi rahasia pemerintah.
Baca Juga:Sudah 7 Minggu sejak Dibunuh AS-Israel, Mengapa Iran Belum Kuburkan Ayatollah Ali Khamenei?
Senator Elizabeth Warren dan Sheldon Whitehouse telah menyurati Ketua CFTC Michael Selig untuk menyatakan kekhawatiran mereka mengenai integritas pasar. Sementara itu, Perwakilan Ritchie Torres menyerukan kolaborasi antara CFTC dan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) untuk mengidentifikasi dalang di balik transaksi tersebut. Mereka menilai pola ini bukan sekadar kebetulan, melainkan indikasi kuat adanya kebocoran informasi non-publik.
Penurunan harga pada Jumat lalu menjadi salah satu koreksi harian terbesar sejak Iran menutup Selat Hormuz pada awal Maret, yang sempat mengganggu 20 pasokan minyak jalur laut global. Sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh angka USD128 per barel pada awal April akibat ketegangan geopolitik sebelum akhirnya melandai seiring rangkaian pengumuman gencatan senjata.










