KLH Bakal Pidanakan Pelanggar Tata Kelola Sampah di TPST Bantargebang

KLH Bakal Pidanakan Pelanggar Tata Kelola Sampah di TPST Bantargebang

Nasional | sindonews | Selasa, 21 April 2026 - 06:29
share

Dominasi dolar AS sebagai mata uang utama perdagangan minyak dunia berada di ambang kehancuran. Uni Emirat Arab (UEA) secara mengejutkan memberikan peringatan keras kepada Departemen Keuangan Amerika Serikat bahwa mereka mungkin akan terpaksa beralih ke yuan China dalam perdagangan minyak mentah.

Langkah berani ini dilaporkan oleh Wall Street Journal (WSJ) sebagai respons atas krisis likuiditas dolar yang kian mencekik akibat dampak ekonomi berkepanjangan dari perang AS melawan Iran di Timur Tengah.

Gubernur Bank Sentral UEA, Khaled Mohamed Balama menyampaikan ancaman implisit tersebut dalam pertemuan dengan Sekretaris Tresuri AS, Scott Bessent, di Washington pekan lalu. Baca Juga: Petrodolar Tergerus, 20 Transaksi Minyak Global Beralih ke Mata Uang LokalAbu Dhabi disebut membutuhkan sokongan finansial (financial backstop) dari AS untuk mencegah krisis likuiditas. Jika Washington gagal memberikan jaminan tersebut, UEA tidak punya pilihan selain menggunakan Yuan untuk menjaga stabilitas arus kas mereka.

Sebagai sekutu AS, UEA harus membayar harga yang sangat mahal. Selama konflik berlangsung, wilayah UEA menjadi sasaran utama serangan Iran. Dilaporkan lebih dari 2.800 drone dan rudal telah ditembakkan Iran ke wilayah UEA, menargetkan pangkalan militer AS dan aset-aset strategis lainnya.Baca Juga: Selamat Tinggal Petrodolar? Arab Saudi Terima Yuan China untuk Pembelian Minyak

Profesor Linda Bilmes dari Harvard memperkirakan AS menghabiskan USD2 miliar (Rp32 triliun) per hari dalam 40 hari pertama konflik. Pemerintahan Donald Trump bahkan sempat melontarkan ide agar negara-negara Teluk ikut menanggung biaya perang tersebut.

Sentimen anti-kehadiran militer AS mulai menguat di kalangan elit Teluk. Abdulkhaleq Abdulla, mantan penasihat Presiden UEA Mohammed bin Zayed, secara terbuka menyerukan penutupan pangkalan militer AS di negara tersebut.

“Pangkalan militer AS kini lebih menjadi beban daripada aset strategis. Kami lebih memilih memprioritaskan akuisisi persenjataan canggih AS sebagai strategi pertahanan nasional mandiri,” tegas Abdulla (20/4/2026).

Di sisi lain, Iran yang menguasai Selat Hormuz mulai menerapkan aturan main baru. Mereka menuntut pembayaran biaya lintas selat bagi kapal-kapal netral menggunakan Yuan China atau Mata Uang Kripto. Strategi ini dilakukan untuk menghindari kontrol finansial dan sanksi dari sistem perbankan global yang didominasi AS.

Topik Menarik