Geopolitik Memanas, Pembentukan Kabinet Perang Dinilai Penting
Presiden Prabowo Subianto disarankan membuat Kabinet Perang. Hal itu sebagai bentuk respons atas meningkatkan eskalasi geopolitik dunia belakangan ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Analis Militer dan Pertahanan dari Universitas Nasional (Unas) Slamat Ginting di Podcas SindoNews To The Po!n Aja.
“Sekarang geopolitik sudah berubah setelah Amerika dan Israel menyerang Iran maka betul-betul sekarang multipolar. Artinya, Amerika dan Israel di satu sisi kemudian Rusia, China, dan Iran di sisi yang lain. Ada juga Eropa,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Baca juga: Iran Siap Perang Lagi Melawan AS-Israel: Kami Akan Tunjukkan 'Kartu Baru' di Medan Perang!
Menyikapi konteks geopolitik global ini, kata Slamat, perlu dicermati di mana posisi Indonesia berada. Situasi sekarang ini hampir sama ketika Indonesia akan merebut Irian Barat yang kini bernama Papua pada 1961-1963. Saat itu, perang dingin antara blok liberalis barat dan blok komunis timur.“Saat ini sudah berhadap-hadapan antara Amerika dan China di Indo Pasifik, Laut China Selatan (LCS). Ingat sembilan garis putus putus itu, China mengklaim itu wilayahnya. Untuk menghadapi China apakah militer Indonesia sanggup? Enggak akan sanggup,” ucapnya.
“Di sisi lain pasukan Amerika sudah di Darwin dan perbatasan Papua Nugini. Apakah kita sanggup menghadapi Amerika? Nonsense dari sisi persenjataan. Karena itu, keuntungan politik bebas aktif Indonesia dan juga negara Non Blok, kita bisa kerja sama dengan semuanya tapi bukan dalam aliansi pakta militer,” tegasnya.
Lihat video: RI SIAGA PERANG! AS Akan Gempur Kapal Iran di Selat Malaka, Ancam Wilayah RI?
Indonesia merupakan negara kunci yang tidak berpihak secara formal dengan negara-negara tersebut. Keseimbangan kawasan harus dijaga. Indonesia harus memainkan peran seolah-olah dekat dengan Amerika, China, dan Rusia.“Kita masuk BRICS di situ ada China, Rusia, India, termasuk Iran yang merupakan negara-negara dengan kekuatan militer besar. Jangan hanya di lihat kekuatan ekonomi dan kita juga masuk BOP,” paparnya.
Slamat menambahkan, Indonesia jangan sampai salah dalam menyikapi situasi geopolitik global. saat ini Indonesia dalam kondisi perang karena itu Presiden perlu membuat kabinet seperti era Presiden Soekarno yakni Kabinet Dwikora.
”Kan perang itu. Karena ada tujuan ganyang Malaysia. Nah ini juga begitu menurut saya reshuffle kabinet, bikin kabinet itu seperti kabinet perang. Lho sudah harus begitu. Makanya TNI turun untuk menangani pangan, bencana dan sebagainya.










