Siswa SMA Ejek Guru di Purwakarta, Pakar Hipnoterapi Soroti Krisis Karakter Remaja
Aksi tidak pantas yang dilakukan sejumlah siswa di SMAN 1 Purwakarta terhadap guru perempuan memicu keprihatinan luas setelah videonya viral di media sosial. Peristiwa tersebut dinilai bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan sinyal adanya persoalan yang lebih dalam terkait karakter dan kondisi psikologis generasi muda.
Dalam video yang beredar, tampak beberapa siswa melakukan gestur tidak sopan, termasuk mengacungkan jari tengah ke arah guru saat berada di dalam kelas. Bahkan, ada pula siswa yang terlihat melakukan gerakan mengejek seolah hendak memukul kepala sang guru dari belakang.
Insiden itu disebut terjadi pada Jumat, 17 April 2026, sesaat setelah kegiatan belajar mengajar usai. Aksi tersebut dilakukan saat guru dalam posisi membelakangi siswa, sehingga memperlihatkan adanya unsur kesengajaan dan kurangnya rasa hormat terhadap tenaga pendidik.
Baca juga: Kisah Zhafif, Siswa Kharisma Bangsa Peraih Emas OSN Astronomi dan Bercita Jadi Peneliti
Peristiwa ini mengejutkan publik, mengingat SMAN 1 Purwakarta dikenal sebagai salah satu sekolah unggulan di wilayahnya. Warganet pun ramai mengecam tindakan tersebut dan mempertanyakan efektivitas pendidikan karakter di lingkungan sekolah.Pemerhati kesehatan mental anak dan remaja, I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya, menilai perilaku tersebut merupakan cerminan krisis karakter yang lebih serius.
“Perilaku merendahkan guru di depan kamera itu bukan terjadi tiba-tiba. Itu merupakan ekspresi dari defisit regulasi emosi, krisis identitas, serta kebutuhan akan pengakuan yang salah arah,” ujarnya Senin (20/4/2026).
Lihat video: Respons Dedi Mulyadi soal Siswa SMK Purwakarta Olok-olok Guru
Menurut Dewa, remaja saat ini hidup dalam budaya viral, di mana perhatian meskipun bernilai negatif sering kali dianggap lebih baik daripada tidak diperhatikan sama sekali. Dewa juga menilai perdebatan mengenai jenis sanksi, seperti skorsing atau hukuman membersihkan lingkungan sekolah, belum menyentuh akar persoalan jika tidak disertai pendekatan yang tepat.“Skorsing atau hukuman bersih-bersih memang bisa menjadi bagian dari pendekatan restoratif. Namun, tanpa intervensi yang menyentuh aspek psikologis, anak hanya belajar menahan emosi, bukan memperbaiki sikap,” jelasnya.
Dewa menawarkan pendekatan hipnoterapi sebagai salah satu alternatif intervensi. Dewa menegaskan hipnoterapi merupakan metode berbasis ilmiah, bukan praktik klenik seperti yang kerap disalahpahami masyarakat.“Hipnoterapi bekerja dalam kondisi relaksasi mendalam, di mana pikiran bawah sadar lebih terbuka terhadap sugesti positif. Metode ini efektif untuk membantu remaja membangun citra diri yang sehat serta menanamkan nilai empati dan rasa hormat,” paparnya.
Menurut Dewa, banyak remaja yang menunjukkan perilaku menyimpang sebenarnya menyimpan persoalan emosional yang tidak terselesaikan, seperti perasaan terabaikan atau kecemasan.
“Pendekatan ini membuka ruang dialog dengan pikiran bawah sadar. Jadi bukan dengan menghakimi, melainkan membimbing agar perubahan karakter muncul dari dalam diri,” tambahnya.
Selain itu, Dewa menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak. Ia menilai reaksi orang tua yang terkejut atas kejadian ini menunjukkan adanya kesenjangan komunikasi di lingkungan rumah.
“Rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang empati dan rasa hormat. Jika fungsi itu tidak berjalan, maka intervensi dari sekolah saja tidak akan cukup,” tegasnya.
Dewa menyarankan agar penanganan kasus seperti ini dilakukan secara holistik, dengan melibatkan sekolah, orang tua, serta pendekatan psikologis yang berkelanjutan.
Dewa menegaskan kasus ini bukanlah kejadian tunggal, melainkan fenomena yang perlu menjadi perhatian bersama. “Ini bukan anomali, melainkan puncak gunung es. Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar hukuman, mereka membutuhkan intervensi yang tepat dan ruang untuk benar-benar bertumbuh,” ucapnya.










