Apakah Turki Target Israel Berikutnya setelah Iran?
Mantan Perdana Menteri (PM) Israel Naftali Bennett telah melontarkan ancaman terselubung terhadap Turki, yang seolah-olah mengisyaratkan negara yang dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan itu bisa menjadi target berikutnya rezim Zionis setelah Iran.
Utusan Amerika Serikat (AS) Tom Barrack telah meremehkan gagasan berbahaya seperti itu. Sebaliknya, dia mendorong kerja sama regional antara kedua negara dalam proyek keamanan dan energi.
Baca Juga: 3 Kapal Induk AS Bersiap Kepung Iran, Salah Satunya Kapal Terbesar di Dunia
Berbicara dalam sebuah panel di Forum Diplomasi Antalya, Barrack menolak komentar dari beberapa pejabat di kedua negara yang menyatakan bahwa mereka dapat berkonflik dalam waktu dekat. "Saya pikir Turki bukanlah negara yang bisa dianggap remeh," kata Barrack, seperti dikutip dari Middle East Eye, Minggu (19/4/2026).
Barrack mengatakan bahwa kedua negara melihat citra yang menyimpang satu sama lain sebagai akibat dari pemberitaan media yang sensasional yang menggambarkan keduanya sebagai negara ekspansionis."Jadi, jika Anda bangun di Tel Aviv, Anda membaca koran, apa yang Anda lihat? Anda melihat diagram di koran tentang Kekaisaran Ottoman 2.0, yang merupakan Wina hingga Maladewa, bukan?" katanya.
"Anda bangun di Istanbul dan membaca koran dan itu adalah Israel Raya," ujarnya.Turki adalah negara mayoritas Muslim pertama yang mengakui negara Israel pada tahun 1949, dan telah menikmati hubungan keamanan dan perdagangan yang sebagian besar ramah sepanjang sebagian besar sejarah modern mereka.
Namun, sejak serangan tahun 2010 terhadap armada Mavi Marmara, ketika pasukan Israel menyerbu kapal Turki yang mengirimkan bantuan ke Gaza dan menewaskan 10 orang di dalamnya, ketegangan telah meningkat dan pemerintah semakin mengecam perlakuan Israel terhadap Palestina.
Upaya terbaru untuk memulihkan hubungan pada September 2023—yang menyaksikan Presiden Erdogan dan PM Israel Benjamin Netanyahu bertemu dan berjabat tangan untuk pertama kalinya di New York—runtuh bulan berikutnya setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober terhadap Israel dan genosida berikutnya di Gaza.
Sejak saat itu, retorika telah meningkat dari para politisi di kedua negara, dengan mantan PM Bennett menggambarkan Turki sebagai berpotensi menjadi "Iran berikutnya".
Pemerintah AS telah dengan tegas mendukung aksi militer Israel di seluruh wilayah Timur Tengah, termasuk bergabung dalam perang melawan Iran. Namun, status Turki sebagai anggota NATO dan kekaguman Presiden AS Donald Trump terhadap Erdogan telah mendorong para pejabat Amerika untuk berupaya memulihkan hubungan antara kedua negara.Barrack mengatakan kepada forum di Antalya bahwa guncangan harga energi akibat perang Iran telah membuktikan pentingnya kerja sama regional untuk menjaga keamanan energi.
"Semuanya berasal dari Turki. Ini seperti serat optik. Kita berbicara tentang Azerbaijan dan Armenia, yang mengalirkan minyak, gas, informasi, data, dan material. Ke mana perginya? Bagaimana cara kerjanya?" katanya.
"Jadi Israel bersekutu dengan Turki, seperti Israel bersekutu dengan Abu Dhabi. Arab Saudi dapat bersekutu dengan Israel dan, demi kemakmuran rakyat Israel, menurut saya itulah jawabannya," imbuh dia.
Barrack menambahkan bahwa Israel harus melangkah lebih jauh, dan mencoba melibatkan Turki sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang dibentuk untuk Gaza sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada bulan September.
"Hal paling cerdas yang dapat dilakukan Israel adalah membujuk dan merangkul Turki untuk bergabung dengan pasukan tersebut," katanya.Barrack mengatakan bahwa interaksi Erdogan dengan kelompok Hamas sangat penting untuk mencapai kesepakatan pembebasan sandera Israel, dan itu terjadi karena Ankara tidak menetapkan kelompok tersebut sebagai target.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan juga bertemu dengan Barrack pada Senin lalu untuk pertemuan yang menurut mereka "produktif".
Turki Target Berikutnya Israel setelah Iran?
Pada pertengan Maret lalu, mantan PM Bennett memicu kontroversi dengan pernyataan provokatif yang menargetkan Turki selama wawancara langsung Bloomberg. Bennett menggambarkan Turki sebagai "ancaman strategis baru" bagi Israel dan mengisyaratkan kemungkinan tindakan terhadap Ankara, dengan mengatakan "pilihan ada di tangan Turki" dan memperingatkan "setelah Iran, kami tidak akan tinggal diam."Bennett mengungkapkan kecemasan mendalam atas meningkatnya pengaruh regional Ankara. Komentar mantan PM Israel itu mengungkap kekhawatiran kalangan elite Israel tentang kebijakan luar negeri independen Erdoğan dan perluasan aliansi Turki di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya yang disiarkan televisi, Bennett juga mengakui pengaruh regional Turki yang semakin besar, menggambarkan negara tersebut sebagai negara yang mengalami "kebangkitan yang tak terbendung" yang merupakan "ancaman strategis baru" bagi kepentingan Israel. Pengakuan itu muncul bersamaan dengan permusuhan yang terang-terangan terhadap keberhasilan diplomatik Ankara dalam membangun hubungan kerja sama dengan Suriah, Qatar, dan aktor regional lainnya.Bennett secara terbuka membahas upaya Israel untuk melemahkan kemitraan regional Turki, menyatakan: "Kita harus memastikan bahwa Erdoğan tidak membentuk aliansi Sunni baru di kawasan ini dan tidak menciptakan poros dengan negara-negara ini."
Komentar blakblakan tersebut mengungkap rencana Israel untuk menyabotase jaringan hubungan bilateral dan multilateral Turki yang semakin berkembang, dan menunjukkan kekhawatiran mendalam di Tel Aviv tentang kemampuan Ankara untuk menyatukan aktor-aktor regional di sekitar kepentingan bersama.
Bennett meningkatkan retorikanya dengan ancaman tersirat tentang kemungkinan tindakan terhadap Turki, mengisyaratkan bahwa Ankara dapat menjadi target berikutnya setelah kampanye militer AS-Israel melawan Iran. "Pada akhirnya, pilihan ada di tangan Turki," kata Bennett.
"Jika mereka mencoba mengepung kita, kita tidak akan tinggal diam. Setelah Iran, Turki...".
Kalimat yang belum selesai tersebut meninggalkan implikasi yang mengerikan, menunjukkan bahwa para ahli strategi Israel memandang Turki sebagai calon musuh di masa depan setelah operasi melawan Iran berakhir.










