Dampak Perang Iran, Harga Beras Asia Cetak Rekor Tertinggi dalam Dua Tahun
Harga beras di Asia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun seiring meningkatnya biaya produksi akibat konflik Iran yang mendorong kenaikan harga energi dan pupuk. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan, terutama di tengah tekanan musim kering dan penundaan tanam oleh petani.
"Sejumlah petani di Thailand telah menunda penanaman beras karena keuntungan mereka tidak cukup menutupi biaya yang membengkak," ujar Analis Komoditas Senior Rabobank Singapura, Oscar Tjakra, dikutip dari Bloomberg, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga:Perang Timur Tengah dan Lonjakan Harga Komoditas Dunia
Harga beras putih Thailand, yang menjadi acuan pasar Asia, tercatat naik sekitar 10 menjadi USD423 per ton pada pekan yang berakhir 8 April. Kenaikan ini merupakan yang terbesar sejak Agustus 2023, sekaligus menandai tekanan baru pada pasar pangan global.
Lonjakan harga tersebut terjadi di tengah kenaikan biaya input pertanian, terutama bahan bakar dan pupuk, yang terdampak konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini mulai memengaruhi keputusan produksi petani dan berpotensi mengganggu stabilitas pasokan beras di kawasan.Selain faktor biaya, musim kering berkepanjangan turut memperburuk situasi dengan menekan hasil panen. Kondisi ini memperketat pasokan di saat petani tengah memasuki masa panen tanaman luar musim dan bersiap untuk musim tanam utama pada Mei.
Baca Juga:Pakar: Indonesia Berisiko Terseret Konflik Jika Izinkan Wilayahnya Diakses Jet Tempur AS
Tjakra menambahkan, penguatan nilai tukar baht Thailand, serta kenaikan biaya logistik dan asuransi akibat konflik, turut memperbesar tekanan harga di pasar. Faktor-faktor tersebut membuat biaya distribusi meningkat dan memperlemah daya saing ekspor.
Thailand merupakan eksportir beras terbesar ketiga di dunia, sehingga dinamika produksi dan harga di negara tersebut memiliki dampak signifikan terhadap pasar global. Meski terdapat sinyal potensi meredanya konflik setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kemungkinan mengakhiri perang, pemulihan pasokan energi global diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Akibatnya, biaya input pertanian berpotensi tetap tinggi dalam jangka menengah, yang dapat menekan produksi dan menjaga harga beras tetap berada pada level tinggi.










