Ganti Presdir! Ini Pencapaian Shugo Watanabe Sebelum Kursi Honda Indonesia Dilanjutkan Masanao Kataoka
Honda resmi menunjuk Masanao Kataoka sebagai President Director baru, menggantikan Shugo Watanabe yang telah memimpin dalam beberapa tahun terakhir. Pergantian ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan penanda fase baru strategi Honda di Indonesia.
Presdir baru PT HPM Masanao Kataoka. Foto: HPMMasanao Kataoka bukan nama baru. Bergabung sejak 2000, ia mengasah pengalaman di berbagai lini strategis, mulai Marketing & Sales di Filipina dan Malaysia hingga Product Planning di Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, ia terlibat dalam perencanaan siklus hidup produk dan strategi bisnis global Honda—modal penting untuk membaca arah pasar yang semakin kompleks.
“Saya ingin membawa Honda tumbuh bersama konsumen Indonesia dengan menghadirkan pengalaman mobilitas yang relevan di setiap tahap kehidupan mereka,” ujar Kataoka.
Shugo Watanabe (kiri) dan Yusak Billy, Sales & Marketing and After Sales Director PT HPM (kanan). Foto: HPMTongkat estafet ini datang dengan warisan strategi yang sudah mulai menunjukkan hasil. Dalam dua tahun terakhir, Shugo Watanabe berhasil mengubah arah Honda dari cenderung stagnan menjadi agresif, khususnya di segmen elektrifikasi.Tahun 2024 menjadi fase transisi dengan minim peluncuran, kecuali BR-V N7X Edition. Namun memasuki 2025, Honda “meledak” dengan strategi elektrifikasi.
Dimulai dari Honda e:N1 yang meluncur 13 Februari 2025 di IIMS—menjadi mobil listrik penuh (BEV) pertama Honda yang dijual di Indonesia. Langkah ini kemudian diperkuat oleh Honda Civic RS e:HEV pada 8 Mei 2025 dengan mesin hybrid 2.0L, dibanderol Rp699 juta.
Tak berhenti di situ, Honda HR-V e:HEV hadir 10 Juni 2025 membawa kombinasi mesin 1.5L i-VTEC dan motor listrik dengan efisiensi tinggi. Lalu, Honda StepWGN e:HEV meluncur 23 Juli 2025 di GIIAS dengan harga mulai Rp629 juta, menyasar segmen MPV premium.
Data ini menunjukkan perubahan signifikan. Strategi hybrid Honda bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan tulang punggung baru di tengah tren pasar Indonesia yang mulai bergeser—di mana kendaraan elektrifikasi makin diterima konsumen.Memasuki 2026, strategi Watanabe bahkan melebar ekstrem: dari mobil murah hingga sport. Honda Brio Satya 1.2L S CVT resmi meluncur 20 Januari 2026, menambah opsi transmisi otomatis di segmen entry-level. Tiga hari berselang, Honda menghadirkan kejutan besar lewat kembalinya Honda Prelude, coupe sport hybrid dengan harga di bawah Rp1 miliar, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di ASEAN yang merilisnya.
Shugo Watanabe (berdiri paling kanan) saat bersama media di Jepang. Foto: HPMWatanabe-san, yang cukup fasih berbahasa Indonesia tersebut berhasil membangun fondasi penting, terutama dalam elektrifikasi dan penguatan jaringan dealer. “Saya senang sekali berada di Indonesia. Ini adalah tempat yang tidak terlupakan bagi saya,” beber Watanabe, dalam pidatonya, Senin (30/3). Watanabe adalah sosok Presdir yang cukup dengan dengan kalangan jurnalis, dan tidak segan untuk mengobrol atau berdiskusi langsung. Kini, tantangan beralih ke Kataoka. Ia harus melanjutkan momentum ini di pasar yang semakin kompetitif, di mana penetrasi mobil hybrid terus meningkat dan ekspektasi konsumen kian tinggi.
Dengan dua strategi utama—produk yang lebih terstruktur dan penguatan layanan purna jual—Honda jelas tidak ingin sekadar bertahan. Mereka ingin mendominasi fase baru industri otomotif Indonesia.


