Berbasis Data Historis, Konflik AS-Iran Bakal Percepat Pelemahan Rupiah ke Rp20.400/USD
Konflik Amerika Serikat atau AS versus Iran berpotensi mempercepat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS(USD) hingga menyentuh Rp20.400 per dolar AS. Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan menerangkan, pelemahan kurs rupiah dalam situasi seperti ini bukanlah skenario yang berlebihan apabila melihat data historis yang pernah terjadi sebelumnya.
Ia menjelaskan, depresiasi rupiah sebesar 15 hingga 20 pernah berulang dalam berbagai periode tekanan global. Dengan posisi rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.000 per dolar Amerika Serikat, pelemahan 20 persen berpotensi membawa kurs ke level sekitar Rp20.400 per dolar AS.
“Angka ini bukan lagi angka spekulatif, tetapi berbasis data historis,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).
Baca Juga: Rupiah Diramal Tembus Rp20.000 per Dolar AS, Ekonom Wanti-wanti Krisis
Anthony menambahkan, dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, tekanan terhadap rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen dalam waktu relatif singkat, yakni antara tiga hingga enam bulan ke depan.
Klarifikasi Dirut Agrinas soal Impor 105.000 Pikap India: Produsen Lokal Tak Sanggup, Harga Mahal
“Dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen. Skenario tersebut dapat terjadi dalam waktu relatif singkat, tiga hingga enam bulan ke depan,” ucapnya.
Ia juga menilai fundamental ekonomi nasional saat ini masih rentan menghadapi gejolak eksternal, baik dari sisi fiskal, moneter, maupun stabilitas nilai tukar. Baca Juga: Rupiah Diguncang Perang AS-Iran, Hari Ini Rp16.893 per Dolar AS
“Fundamental ekonomi, baik fiskal, moneter, dan nilai tukar, sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh. Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik,” jelasnya.
Perang Iran dinilai berpotensi mempercepat tekanan terhadap perekonomian Indonesia melalui berbagai jalur eksternal, mulai dari kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok global, hingga pelemahan nilai tukar rupiah. Ia mengatakan kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah dapat menjadi katalis yang memperburuk tekanan ekonomi yang saat ini sudah dihadapi Indonesia.
"Konflik Iran bisa menjadi katalis yang berpotensi mempercepat tekanan yang sudah ada. Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia," terangnya.










