Putin Manfaatkan Lonjakan Harga Minyak, Perusahaan Energi Rusia Diarahkan Segera Bayar Utang
Presiden Rusia Vladimir Putin mengarahkan perusahaan minyak dan gas nasional untuk mengalokasikan pendapatan tak terduga dari lonjakan harga energi global guna melunasi utang pada bank domestik. Langkah strategis ini diambil seiring dinamika pasar energi dunia yang menguntungkan Moskow di tengah eskalasi konflik di Iran.
"Perusahaan minyak dan gas Rusia sebaiknya mempertimbangkan pengaliran pendapatan tambahan dari kenaikan harga hidrokarbon global untuk mengurangi beban utang dan melunasi kewajiban ke bank domestik," kata Putin dalam pertemuan isu ekonomi sebagaimana dikutip dari EADaily, Selasa (24/3/2026).
Baca Juga:Setiap Kenaikan 1 Dolar Harga Minyak, APBN Terancam Jebol Sampai Rp7 Triliun
Ia menekankan perlunya keputusan yang seimbang dalam pembagian pendapatan situasional tersebut demi menjaga stabilitas fiskal jangka panjang negara. Instruksi tersebut muncul di tengah guncangan pasar energi akibat operasi militer di Iran yang dimulai sejak akhir Februari lalu.
Penutupan efektif Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi sekitar 20 pasokan minyak dunia, telah memicu lonjakan harga minyak jenis Brent hingga lebih dari 50 persen. Harga acuan global tersebut sempat menyentuh level USD119 per barel, angka tertinggi sejak tahun 2022.
Kondisi pasar ini menjadi berkah finansial bagi Kremlin, di mana Rusia diperkirakan meraup tambahan pendapatan anggaran hingga USD150 juta per hari dari ekspor minyak. Dalam kurun waktu 12 hari pertama konflik, total pendapatan ekstra yang terkumpul diprediksi mencapai antara USD1,3 miliar hingga USD1,9 miliar. Bahkan, harga minyak Urals Rusia yang dikirim ke India mencatat rekor USD98,93 per barel pada pertengahan Maret.
Pendapatan tak terduga ini menjadi stimulus krusial bagi perekonomian Rusia yang sebelumnya sempat mengalami tekanan fiskal akut. Sebelum konflik pecah, pendapatan sektor migas Rusia dilaporkan turun sekitar 47 secara tahunan pada periode Januari hingga Februari. Defisit anggaran federal pun sempat merangkak naik mendekati target tahunan sebesar 3,8 triliun rubel.
IHSG Sesi I Melemah ke Level 8.374
Dalam pertemuan dengan para eksekutif energi di Kremlin, Putin mendesak korporasi untuk memanfaatkan momentum harga tinggi yang kemungkinan bersifat sementara ini. Di sisi lain, ia juga tetap membuka ruang diplomasi energi dengan menawarkan kelanjutan pasokan minyak dan gas ke Eropa, asalkan terdapat jaminan kerja sama jangka panjang yang bebas dari kepentingan politik.
Baca Juga:AS Minta Kompensasi Rp84.781 Triliun dari Negara-negara Arab jika Perang Iran Terus Berlanjut
Penguatan posisi dagang Moskow kian solid setelah adanya kebijakan pelonggaran sanksi sementara terhadap minyak Rusia yang berada di jalur laut. Hal ini memungkinkan kargo-kargo energi yang sebelumnya tertahan dapat segera mencapai negara pembeli utama di kawasan Asia. Data perdagangan menunjukkan adanya reorientasi pasar yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Pembelian minyak mentah Rusia oleh India dilaporkan melonjak drastis hingga sekitar 50 persen, sementara volume impor dari China juga mengalami kenaikan sebesar 22 persen. Langkah Putin dalam mengarahkan arus kas perusahaan migas ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan sektor perbankan domestik di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih berlangsung.









