Iran Gempur Fasilitas Energi Negara Teluk, Harga Minyak Tembus USD115 per Barel

Iran Gempur Fasilitas Energi Negara Teluk, Harga Minyak Tembus USD115 per Barel

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 20 Maret 2026 - 07:55
share

Harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus USD115 per barel pada Kamis, setelah serangkaian serangan drone dan rudal yang dilancarkan Iran menghantam sejumlah fasilitas energi vital di kawasan Teluk Persia. Eskalasi ini menandai babak baru konflik yang kini secara langsung mengganggu infrastruktur minyak dan gas di jantung produksi energi dunia.

Serangan tersebut merupakan aksi balasan atas serangan Israel yang terlebih dulu melumpuhkan ladang gas South Pars milik Iran, yang memasok sekitar 70 persen kebutuhan gas negeri para mullah.

"Kami memperingatkan bahwa setiap agresi terhadap infrastruktur kami akan mendapat respons yang setimpal dan menghancurkan," kata Juru Bicara Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, Kamis dini hari dikutip dari CNr, Jumat (19/3/2026).

Baca Juga:Harga Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel, Purbaya Ungkap Nasib BBM Subsidi

Dalam operasi yang dinamai 'Martyrs of South Pars', IRGC menargetkan sejumlah titik strategis. Otoritas Qatar melaporkan kebakaran besar di kawasan industri Ras Laffan, pusat operasi gas alam cair (LNG) negara itu. Sementara itu, Kuwait mengonfirmasi dua kilang minyaknya di Mina al-Ahmadi dan Mina Abdullah terkena serangan drone, yang memicu kebakaran hebat di unit operasional. Meski Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat empat rudal yang menuju Riyadh, sumber industri menyebut serangan juga sempat menyasar kilang SAMREF di Yanbu, meski dampaknya dilaporkan minimal. Uni Emirat Arab juga menghentikan sementara operasi di fasilitas gas Habshan setelah mencegat satu drone.

Akibat serangan ini, harga minyak acuan Brent melonjak hingga 7 persen, mencapai level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Lonjakan tajam juga terjadi pada harga gas alam menyusul terganggunya produksi LNG di Qatar. "Ini adalah eskalasi yang sangat berbahaya. Untuk pertama kalinya, infrastruktur energi negara-negara Teluk menjadi target langsung, yang memicu kekhawatiran akan krisis pasokan berkepanjangan," ujar seorang analis energi dari perusahaan konsultan internasional kepada Antara dari London.

Guncangan di pasar energi langsung berimbas ke pasar saham global. Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average di Wall Street terkoreksi tajam, sementara di Asia, indeks Sensex India ambles sekitar 2.500 poin.

Kekhawatiran pasar semakin menjadi setelah Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, memberi sinyal bahwa kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat memicu lonjakan inflasi baru dan mempersulit kebijakan moneter ke depan. "Kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan harga minyak. Situasi ini kami pantau sangat ketat," kata Powell.Di tengah krisis, tekanan diplomatik mulai mengemuka. Presiden AS Donald Trump menyuarakan kekecewaannya kepada sekutu di kawasan yang dinilainya lamban dalam mengamankan jalur pelayaran kritis di Selat Hormuz. "Sekutu AS harus sadar—ayo bantu buka Selat Hormuz," tulis Trump di media sosial.

Baca Juga:Kilang Minyak Aramco Dihujani Rudal Iran, Menlu Saudi: Kerajaan Berhak Ambil Opsi Militer

Sebagai respons jangka pendek, pemerintahan Trump secara sementara mencabut mandat pengiriman kapal berusia seabad untuk menekan biaya transportasi energi. Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan menggelar pertemuan darurat dengan para eksekutif perusahaan minyak besar pada Kamis waktu setempat untuk membahas stabilisasi pasokan.

Konflik yang kini memasuki pekan ketiga dan melibatkan sedikitnya sembilan negara ini telah mengubah peta ketegangan di Timur Tengah. Dengan infrastruktur energi yang kini menjadi medan tempur, taruhan bagi perekonomian global semakin tinggi, dan pasar bersiap menghadapi volatilitas yang berkelanjutan selama pertempuran belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Topik Menarik