Wall Street Berakhir Lesu, Pelaku Pasar Cermati Sejumlah Keputusan Penting Bank Sentral

Wall Street Berakhir Lesu, Pelaku Pasar Cermati Sejumlah Keputusan Penting Bank Sentral

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 20 Maret 2026 - 06:44
share

IDXChannel - Wall Street mengakhiri sesi dengan sebagian besar penurunan, meskipun indeks utama ditutup jauh di atas titik terendah. 

Dilansir dari laman Investing Jumat (20/4/2026), pasar sempat berbalik positif pada sore hari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Iran tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium setelah hampir tiga minggu serangan AS dan Israel. Sentimen sebelumnya tertekan oleh lonjakan harga minyak yang kembali terjadi dan data perumahan AS.

Para pelaku pasar juga mencerna sejumlah keputusan penting bank sentral sejak kemarin, termasuk langkah untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil oleh Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of England (BoE).

Indeks acuan S&P 500 turun 0,2 persen menjadi 6.608,55 poin, setelah sebelumnya turun hingga 1 persen. Indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,3 persen menjadi 22.090,69 poin, mengurangi kerugian hingga 1,4 persen. 

Indeks Dow Jones Industrial Average turun juga 0,4 persen menjadi 46.022,14 poin. Sementara itu, Indeks S&P dan Nasdaq berbalik positif setelah pernyataan Netanyahu, tetapi gagal mempertahankan kenaikan tersebut.

"Iran tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium atau membuat rudal balistik setelah 20 hari perang," kata Netanyahu dalam konferensi pers.

Seperti diketahui, Indeks utama di Wall Street merosot pada sesi sebelumnya, menyusul serangan terhadap ladang gas South Pars, bagian Iran dari cadangan gas alam terbesar di dunia. 

Teheran pun merespons dengan menargetkan lokasi di fasilitas gas di Qatar dan Arab Saudi, karena pertempuran antara Iran dan pasukan gabungan AS dan Israel disinyalir akan meningkat menjadi konflik regional yang lebih luas.

“Harga energi tetap menjadi katalis utama bagi pelemahan pasar saham. Serangan Israel dan Iran kemarin terhadap infrastruktur energi merupakan eskalasi perang di Timur Tengah,” kata Michael O’Rourke, Kepala Strategi Pasar di Jones Trading, kepada Investing.com.

“Kenaikan harga minyak mentah Brent terkait dengan spekulasi bahwa AS mungkin akan menerapkan kontrol ekspor energi. Dengan demikian, WTI turun sementara Brent naik. Kemudian dilaporkan bahwa tidak akan ada kontrol ekspor dan selisih antara kedua jenis minyak tersebut,” katanya. Sebelumnya pada hari Kamis, selisih antara kedua minyak tersebut mencapai level tertinggi dalam 11 tahun.

“Perkembangan yang mengkhawatirkan investor saham adalah pernyataan CEO QatarEnergy bahwa serangan Iran telah menonaktifkan 17 persen kapasitas LNG Qatar hingga 5 tahun. Kekhawatirannya adalah infrastruktur energi akan terus menjadi sasaran, memperburuk krisis energi,” kata O’Rourke.

(kunthi fahmar sandy)

Topik Menarik