Cerita Zair, Mahasiswa UMM Jalani Ramadan di Portugal: Puasa 12 Jam di Tengah Minoritas Muslim
Muhammad Zair Baitil Atiq, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022, tengah menjalani program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, Braga, Portugal. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan merasakan suasana Ramadan di negara dengan jumlah umat Islam yang tergolong sangat kecil.
Selama berada di Portugal, Zair merasakan perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan suasana Ramadan di Indonesia. Ia menilai, jika di Tanah Air Ramadan disambut meriah dan penuh antusias, maka di Portugal suasananya cenderung lebih sepi karena umat Muslim hanya sekitar 1 persen dari total penduduk.
“Kalau di Indonesia orang-orang sangat antusias menyambut Ramadan, sedangkan di sini rasanya seperti hanya kita saja yang merayakan,” ungkapnya, dikutip dari laman UMM, Kamis (19/3/2026).
Meski demikian, Zair tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadan di perantauan. Terlebih, ini menjadi pengalaman pertamanya menjalani ibadah puasa tanpa keluarga sekaligus merayakan Idulfitri di luar negeri.Dari sisi durasi, waktu berpuasa di Portugal terbilang lebih singkat dibandingkan Indonesia, yakni sekitar 12 jam. Ia juga menyebutkan bahwa informasi terkait jadwal sahur, imsak, hingga berbuka dapat dengan mudah diakses melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal maupun komunitas Muslim setempat yang menyediakan jadwal ibadah secara daring.
Selain itu, Zair juga merasakan tingginya toleransi antarumat beragama di lingkungan sekitarnya. Ia mengungkapkan bahwa teman-teman kampusnya sangat menghormati ibadah yang dijalankannya, bahkan memahami batasan-batasan yang ia pegang sebagai seorang Muslim.
“Teman-teman di kelas sangat menghargai. Mereka tahu saya sedang puasa, bahkan memahami bahwa saya tidak mengonsumsi babi atau alkohol. Saat mengajak berkumpul, mereka memilih tempat yang sesuai,” jelasnya.
Mahasiswa asal Kalimantan ini juga mengaku mendapatkan pengalaman baru, yakni memasak sendiri selama Ramadan. Hal tersebut ia lakukan untuk memastikan makanan yang dikonsumsi tetap halal. Ia bahkan membawa bumbu khas Indonesia dari tanah air. Namun, dalam kondisi tertentu, ia juga berbuka puasa di luar, salah satunya di restoran Turki favoritnya yang menyediakan menu halal seperti kebab serta takjil gratis bagi Muslim.
Bagi Zair, menjalani Ramadan di luar negeri menjadi pengalaman berharga yang mengajarkannya tentang arti toleransi dan menghargai perbedaan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa lain yang mengikuti program serupa agar tetap menikmati setiap proses yang dijalani.










