IHSG Ambruk 5,91 dan Rupiah Tertekan, Pasar Indonesia Hadapi Perfect Storm

IHSG Ambruk 5,91 dan Rupiah Tertekan, Pasar Indonesia Hadapi Perfect Storm

Ekonomi | sindonews | Senin, 16 Maret 2026 - 07:49
share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan mingguan terdalam di Asia Tenggara sepanjang periode 9-13 Maret 2026. IHSG ditutup di level 7.137,21 pada Jumat (13/3), anjlok 5,91 atau 448 poin dari penutupan pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar BEI (Bursa Efek Indonesia) susut Rp949 triliun, sementara investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp1,57 triliun.

Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi menegaskan, bahwa koreksi ini merupakan realisasi dari risiko sistemik: kombinasi geopolitical contagion di Selat Hormuz, revisi outlook Fitch menjadi negatif, dan tekanan Rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Dinamika Rupiah: Analisis Deskriptif dan Uji Ketahanan

Nilai tukar Rupiah sepanjang pekan 9-13 Maret 2026 menggambarkan potret ketidakpastian ekstrem, di mana pasar domestik dipaksa merespons rentetan guncangan eksternal dan domestik secara simultan.

Baca Juga: Daftar 10 Saham Paling Cuan dan Boncos dalam Sepekan, Investor Asing Jual Rp1,56 TriliunAwal Pekan (9-10 Maret), Rupiah memulai pekan di level Rp16.820, tertekan eskalasi Selat Hormuz. Pelemasan berlanjut ke Rp16.910 pada Selasa pasca-revisi outlook Fitch Ratings, memicu aliran modal keluar (capital outflow) menuju aset safe haven.

Titik Nadir (11 Maret), Hari Rabu menjadi puncak tekanan ketika Rupiah mencatatkan level terendah (intraday) sekaligus menembus batas psikologis di Rp17.015. Secara ekonomi politik, ini memicu kekhawatiran imported inflation yang dapat melumpuhkan daya beli sektor riil.Intervensi & Penutupan (12-13 Maret), terjadi konsolidasi di level Rp16.985 pada Kamis, mengindikasikan intervensi otoritas moneter. Pekan perdagangan ditutup pada Jumat di level Rp16.960, melemah 67 poin dari hari sebelumnya.

“Posisi penutupan di Rp16.960 adalah 'pesan' dari pasar bahwa kepercayaan terhadap stabilitas makroekonomi sedang diuji. Jika level ini bertahan lama, transmisi ke sektor riil melalui lonjakan biaya logistik dan manufaktur tidak akan terhindarkan,” ujar Kusfiardi.

Faktor Pemicu Global: Selat Hormuz dan Krisis Energi

Baca Juga: Bursa Babak Belur Dihantam Perang: IHSG Sepekan Ambruk 5,91, Kapitalisasi Merosot ke Rp12.678 T

Konflik di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak Brent dan WTI hingga sempat menyentuh US$113 per barel. Sebagai negara importir minyak, Indonesia menghadapi ancaman pembengkakan subsidi energi. “Ini adalah contagion effect yang menular ke seluruh rantai pasok dan daya beli masyarakat,” tambah Kusfiardi.

Rekomendasi Strategi Investasi Update

Melihat volatilitas yang masih tinggi, Kusfiardi menyesuaikan rekomendasi menjadi lebih defensif. Pertama, Rasio Kas: Tingkatkan likuiditas minimal 40 dalam portofolio untuk fleksibilitas. Kedua, Sektor Defensif: Prioritaskan sektor Energi (PERT, MEDC) dan Konsumer Primer (UNVR, ICBP).

Ketiga, Hindari Sektor Sensitif: Kurangi eksposur pada Properti, Konstruksi, dan Transportasi yang rentan terhadap fluktuasi suku bunga dan pelemahan Rupiah. Keempat, Diversifikasi: Pertimbangkan aset safe haven seperti obligasi pemerintah dan emas fisik.

“Pekan ini adalah ujian penting. Jika level support IHSG di 7.000–7.100 mampu bertahan, kita bisa mengharapkan rebound terbatas. Namun, prioritas utama tetap mitigasi risiko terhadap kemungkinan breakout kembali ke atas Rp17.000 yang dapat mengancam stabilitas APBN,” tutup Kusfiardi.

Topik Menarik