Ekspor Kuat, Konsumsi Lemah: Dilema Baru Ekonomi China
Pertumbuhan belanja konsumen China diperkirakan mencatat awal tahun terlemah di luar periode pandemi Covid-19, menambah tantangan bagi pemerintah yang berupaya meningkatkan peran permintaan domestik dalam mendorong ekonomi.
Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (14/3/2026), data yang akan dirilis pemerintah pada Senin pekan depan diperkirakan menunjukkan penjualan ritel China pada Januari–Februari 2026 hanya naik sekitar 2,1 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut median proyeksi ekonom yang disurvei Bloomberg.
Baca Juga: China Diduga Tekan Universitas Inggris agar Hentikan Riset soal Xinjiang
Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi kinerja terlemah sejak data penjualan ritel mulai dicatat pada 2000, di luar periode Januari–Februari 2020 ketika ekonomi China terpukul pandemi Covid-19.
Di sisi lain, sektor manufaktur masih menunjukkan ketahanan. Produksi industri diperkirakan tumbuh sekitar 5 dalam dua bulan pertama tahun ini, meskipun melambat dari pertumbuhan 5,9 pada awal 2025.Kinerja tersebut dinilai masih didorong oleh permintaan luar negeri yang relatif kuat terhadap produk-produk China.
Investasi dan Sektor Properti Masih Tertekan
Indikator ekonomi utama lainnya yang akan dirilis adalah investasi aset tetap. Para ekonom memperkirakan penurunan tajam pada 2025 akan berlanjut tahun ini.Investasi aset tetap diproyeksikan turun sekitar 4,2 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan investasi sektor properti diperkirakan merosot sekitar 19,3.Jika proyeksi tersebut terbukti, gambaran awal ekonomi China pada 2026 akan menunjukkan melemahnya permintaan domestik meskipun pemerintah berulang kali menegaskan bahwa pemulihan konsumsi menjadi prioritas.
Kondisi tersebut juga menimbulkan tantangan tambahan di tengah risiko terhadap sektor ekspor yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi China.
Ekonom ING Bank NV menilai pemulihan konsumsi kemungkinan tidak terjadi dalam waktu cepat.
“Para pembuat kebijakan telah menegaskan pentingnya permintaan domestik tahun ini,” tulis ekonom ING yang dipimpin Deepali Bhargava dalam sebuah catatan riset.
“Namun, kemungkinan diperlukan waktu sebelum data menunjukkan ekonomi mulai pulih,” ujarnya.
Sejauh ini, pemerintah China belum memberikan sinyal perubahan kebijakan besar meskipun situasi geopolitik global mengalami perubahan cepat.
Pekan lalu, pemerintah China juga mengumumkan target ekonomi tahunan yang kemungkinan telah dirancang beberapa bulan sebelumnya, sebelum meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Target Pertumbuhan Lebih Rendah
Dalam rencana ekonomi tahun ini, Beijing menurunkan target pertumbuhan menjadi sekitar 4,5 hingga 5.Target tersebut menjadi yang paling rendah sejak 1991, meskipun ukuran ekonomi China kini jauh lebih besar dibandingkan tiga dekade lalu.
Pemerintah juga sedikit mengurangi rencana stimulus fiskal.
Langkah itu dinilai mencerminkan upaya Beijing untuk menekan investasi yang tidak produktif sekaligus mengendalikan tingkat utang yang sudah tinggi.
Para ekonom menilai pemerintah China menghadapi dilema antara mempertahankan pertumbuhan ekspor dan memperbaiki permintaan domestik.
Lawan Ancam Rusia, Inggris Akan Kerahkan Kapal Induk dan Jet Tempur Siluman F-35 ke Atlantik Utara
“Beijing membutuhkan pertumbuhan ekspor untuk mengimbangi pasar properti yang sedang jatuh,” tulis ekonom Nomura yang dipimpin Ting Lu.“Namun ketidakseimbangan perdagangan yang sangat besar kemungkinan tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Ini adalah dilema yang harus diselesaikan Beijing,” paparnya.
Kebijakan Konsumsi Dinilai Masih Terbatas
Pemerintah China sejauh ini belum mengumumkan kebijakan baru yang signifikan untuk mendorong konsumsi rumah tangga.Kenaikan manfaat minimum pada salah satu program pensiun utama, misalnya, dipertahankan pada tingkat yang sama seperti tahun lalu.
Langkah tersebut tidak memenuhi ekspektasi sebagian ekonom yang berharap adanya kenaikan signifikan guna mengurangi kecenderungan masyarakat menabung secara berlebihan dan mendorong belanja.
Selain itu, pemerintah juga memangkas subsidi untuk program tukar tambah barang konsumsi menjadi 250 miliar yuan (sekitar USD36,3 miliar) dari 300 miliar yuan tahun lalu.
Menjelang rilis data ekonomi, Asosiasi Produsen Mobil China melaporkan penjualan mobil turun sekitar 15 pada Februari.Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pengurangan subsidi program tukar tambah serta berkurangnya insentif pajak untuk beberapa kendaraan energi baru.
Tanpa dukungan kebijakan tambahan yang signifikan, sejumlah analis memperkirakan pertumbuhan konsumsi dapat semakin melemah.
Analis Bloomberg Intelligence yang dipimpin Catherine Lim memperingatkan bahwa pertumbuhan penjualan ritel China bisa melambat hingga 1,7 tahun ini, yang akan menjadi titik terendah sejak pandemi.
Sebagai perbandingan, konsensus ekonom saat ini memperkirakan pertumbuhan sekitar 4 sepanjang 2026.
Ekonom Pantheon Macroeconomics menilai kinerja ekspor yang masih kuat justru mengurangi tekanan jangka pendek bagi pemerintah untuk segera meningkatkan stimulus konsumsi.
“Kinerja ekspor China yang kuat dalam dua bulan pertama tahun ini mengurangi tekanan bagi pembuat kebijakan untuk segera meningkatkan permintaan domestik,” tulis ekonom Pantheon, termasuk Duncan Wrigley, dalam sebuah catatan riset.









