UNEJ Bersama BPOM Siapkan Mahasiswa Jadi Pendamping UMK di Bidang Keamanan Pangan

UNEJ Bersama BPOM Siapkan Mahasiswa Jadi Pendamping UMK di Bidang Keamanan Pangan

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 13 Maret 2026 - 15:45
share

Universitas Jember (UNEJ) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar kegiatan Sapa Kampus Berdampak (SKB) Batch 8 sebagai upaya menyiapkan mahasiswa menjadi fasilitator pendamping Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di bidang keamanan pangan.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (12/3/2026) ini menjadi bagian dari implementasi program Merdeka Belajar Kampus Berdampak bagi mahasiswa peserta magang Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.

Program Sapa Kampus Berdampak Batch 8 ditujukan bagi mahasiswa yang mengikuti program magang pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa sebelum terjun langsung mendampingi UMK dalam pengawasan standar obat dan makanan.

Baca juga: 26 Tahun Konsisten, Festival Musik Patrol UNEJ Jadi Wadah Pelestarian Budaya Jember

Hadir secara daring untuk membuka acara sekaligus memberikan arahan, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Jember, Prof. Drs. Slamin. Ia memberikan apresiasi atas langkah proaktif BPOM yang terus memfasilitasi mahasiswa UNEJ.“Kampus sejatinya adalah pusat inovasi, namun inovasi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa adanya dukungan dan kolaborasi dari pihak eksternal seperti BPOM. Bagi para mahasiswa terpilih, manfaatkanlah kesempatan magang ini sebaik-baiknya. Ingat, sukses di dunia kerja sangat ditentukan oleh attitude. Kecerdasan akademik harus selalu diimbangi dengan etika yang baik, serta kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan bangsa,” pesan Prof. Slamin sekaligus membuka acara secara resmi.

Agenda inti kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Program Sapa Kampus Berdampak yang disampaikan oleh Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Pangan Olahan (PMPUPO) BPOM RI, Agus Yudi Prayudana.

Baca juga: UNEJ Resmi Punya LSP-P1, Lulusan Dapat Sertifikat Kompetensi Nasional

Agus menjelaskan bahwa program ini merupakan evolusi dari program Pangan Aman Goes to Campus (PAGC) yang bertujuan menggerakkan lima pilar keamanan pangan, di mana akademisi menjadi salah satu pilar utamanya.

“Melalui program ini, kami menekankan peran universitas untuk terjun bersama mencetak tenaga fasilitator yang mengawal keamanan pangan bagi pelaku usaha pangan olahan. Mahasiswa akan dibekali kompetensi pendampingan UMK dalam menyusun CPPOB (Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik), sehingga UMK dapat naik kelas menuju Izin Edar dari Badan POM, bukan sekadar P-IRT,” papar Agus.Ia menambahkan, mahasiswa peserta program tidak hanya mendapatkan rekognisi 20 SKS, tetapi juga peluang memperoleh kompetensi pada level 4 atau 5 yang diakui oleh Kementerian Tenaga Kerja.

“Kompetensi ini nantinya dapat disertifikasi sesuai standar SKKNI melalui Tempat Uji Kompetensi (TUK) di UPT kami. Berdasarkan data sejak 2021, 80 persen lulusan fasilitator kami menyatakan sertifikat ini sangat membantu mereka memasuki dunia kerja,” tegasnya.

Selain kemampuan teknis di bidang pangan, mahasiswa juga dibekali keterampilan digital marketing, pembuatan konten promosi, hingga penyusunan infografis guna membantu pemasaran produk UMK.

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh tim BPOM RI, Anita Nur Aini, S.Si., Apt., M.Si., yang menjelaskan lebih lanjut mengenai Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dalam program Sapa Kampus Berdampak.

Ia menjelaskan bahwa program ini memiliki dua skema, yakni magang reguler dan KKN Tematik Keamanan Pangan, dengan skema reguler memberikan pembelajaran setara 20 SKS untuk membekali mahasiswa mendampingi UMK di bidang keamanan pangan. Selain itu, mahasiswa juga mempelajari praktik pemilihan kemasan yang tepat, penetapan mutu produk, penerapan good practice, serta pelaksanaan audit internal untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian standar pada usaha pangan olahan.

“Mahasiswa nantinya dilatih merancang, melaksanakan, hingga mengevaluasi penyuluhan keamanan pangan. Mereka juga dibekali kemampuan menyusun dokumen seperti SOP dan formulir yang dibutuhkan UMK dalam proses pemenuhan persyaratan izin edar,” jelas Anita.

Metode pembelajaran dalam program ini menggunakan pendekatan studi kasus, Problem Based Learning (PBL), simulasi, serta praktik audit internal untuk melatih mahasiswa membantu UMK memenuhi standar keamanan pangan.

Dalam kesempatan tersebut, Agus Yudi juga menawarkan perluasan kerja sama melalui inisiasi program baru pada tahun 2026, yakni Sapa Kampus KKN Tematik Keamanan Pangan.

“Bedanya dengan magang reguler, KKN Tematik ini berdurasi lebih singkat sehingga mencetak fasilitator di level kompetensi 3, sekaligus kader penyuluh atau edukator bagi masyarakat di desa lokasi KKN. Untuk mendukung program ini, kami di pusat juga tengah mengupayakan bantuan pendanaan CSR dari industri atau BUMN,” tambahnya.

Kegiatan yang difasilitasi oleh Balai POM Jember ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif. Program ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam meningkatkan literasi serta penerapan standar keamanan pangan di masyarakat. Melalui program tersebut, mahasiswa Universitas Jember diharapkan mampu berperan aktif mendampingi pelaku UMK agar semakin siap memenuhi standar keamanan pangan sekaligus meningkatkan daya saing produk olahan di masyarakat.

Topik Menarik