Meningkatkan Pelayanan Penanganan Diabetes Melitus Tipe 2 lewat Terapi Pengobatan Inovatif
PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), sebuah perusahaan Zuellig Pharma berupaya menjembatani terobosan global dengan kebutuhan nyata pasien penanganan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia, sehingga layanan kesehatan menjadi lebih mudah diakses.Selain perubahan perilaku menyeluruh, rencana pengobatan yang disesuaikan secara individual di bawah pengawasan tenaga kesehatan juga dapat membantu penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 dalam mengelola kondisi mereka dengan lebih efektif.
“Sebagai perusahaan layanan kesehatan terkemuka, APL berkomitmen untuk menghadirkan produk-produk terobosan inovatif serta meningkatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat di seluruh Indonesia," ujar Presiden Direktur PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), Christophe Piganiol.
Momen Ramadan tidak hanya menjadi refleksi spiritual, tetapi juga kesempatan untuk memberi tubuh waktu melakukan “reset” melalui pola makan yang lebih sehat. Periode puasa dapat memberikan manfaat metabolisme bagi sebagian orang.
Baca Juga: Permudah Akses Layanan Medis di Indonesia, PT APL Perkuat Lini Digital
Pola makan yang sehat dapat berkontribusi terhadap pencegahan penyakit Diabetes Melitus yang saat ini masih menjadi tantangan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Menurut International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas (2025), sekitar 11,1 - atau 1 dari 9 – populasi dewasa (20-79 tahun) hidup dengan diabetes, dengan lebih dari 4 dari 10 - orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki kondisi tersebut.Lebih dari 90 kasus Diabetes Melitus tersebut merupakan Diabetes Melitus Tipe 2, yaitu penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat resistensi insulin atau produksi insulin yang tidak mencukupi.
Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor sosial ekonomi, demografis, lingkungan, serta genetik. Diabetes Melitus Tipe 2 memengaruhi cara tubuh menggunakan gula (glukosa) sebagai sumber energi dan merupakan bentuk diabetes yang paling umum terjadi pada orang dewasa.
IDF Diabetes Atlas (2025) menunjukan sekitar 19,5 juta orang dewasa hidup dengan Diabetes Melitus Tipe 2. Hal ini menegaskan perlunya upaya peningkatan kesadaran, pencegahan, serta akses terhadap pengobatan baru untuk terapi Diabetes Melitus Tipe 2.
Upaya ini membutuhkan kerja sama dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, industri, dan masyarakat. Untuk menjawab kebutuhan pasien di Indonesia, APL memberikan solusi nyata melalui keahliannya dalam bidang distribusi, komersialisasi, dan layanan uji klinis. APL menghadirkan pilihan pengobatan baru ke Indonesia, sebagai contoh yaitu Tirzepatide yang merupakan obat dengan mekanisme kerja baru untuk Diabetes Melitus Tipe 2. Tirzepatide merupakan dual receptor antagonist yang menggabungkan GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide) dan GLP-1 (glucagon-like peptide-1). APL juga akan memastikan terapi tersebut dapat diakses oleh pasien di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Beri Kemudahan Layanan Kesehatan, APL Punya Fasilitas Baru dengan Teknologi Mutakhir
Tujuan peningkatan pelayanan kesehatan melalui kehadiran terapi pengobatan baru tidak akan dapat terwujud tanpa peran penting Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Visi BPOM untuk periode 2025-2029 berfokus pada pengawasan obat dan makanan yang aman, bermutu, dan berdaya saing guna mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera serta mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.
BPOM berperan penting dalam memastikan Tirzepatide dapat segera menjangkau pasien melalui percepatan jalur registrasi. Dengan waktu evaluasi hanya 98 hari, BPOM menyetujui izin edar molekul baru ini dengan tetap menjaga standar keamanan dan integritas tertinggi.
APL mengapresiasi kinerja BPOM yang merupakan faktor krusial dalam memberikan keyakinan terhadap pilihan terapi pengobatan baru yang dibutuhkan oleh tenaga kesehatan dan pasien di Indonesia. Akses terhadap pengobatan Diabetes Melitus Tipe 2 berkualitas tinggi menjadi langkah maju dalam menghadapi penyakit ini sekaligus membawa harapan bagi lebih banyak pasien di Indonesia untuk mendapatkan terapi terbaru.










