Trump Sesumbar Perang dengan Iran Segera Berakhir, Harga Minyak Terjun Bebas

Trump Sesumbar Perang dengan Iran Segera Berakhir, Harga Minyak Terjun Bebas

Ekonomi | sindonews | Rabu, 11 Maret 2026 - 07:58
share

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Selasa (10/3) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan sinyal kuat akan berakhirnya konflik dengan Iran. Melemahnya harga minyak terjadi di tengah harapan pasar terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur logistik energi paling krusial di dunia yang sempat lumpuh total.

"Saya yakin perang ini sudah sangat lengkap, hampir selesai," ujar Trump dalam wawancaranya bersama CBS News.

Baca Juga:Perang Memanas, Rudal dan Drone Iran akan Targetkan Kapal-kapal AS di Selat Hormuz

Pernyataan tersebut seketika mengubah sentimen pasar dari kekhawatiran pasokan menjadi optimisme deeskalasi di Timur Tengah. Penurunan ini mengakhiri tren penguatan harga yang terjadi selama beberapa hari terakhir.

Mengutip Reuters, harga minyak jenis Brent merosot sekitar 11 setelah para pelaku pasar mulai melepas premi risiko geopolitik yang sebelumnya diperkirakan mencapai USD18 per barel. Selain faktor diplomasi, rencana Trump untuk melonggarkan sanksi minyak Rusia dan melepaskan cadangan darurat turut menjadi penekan harga di pasar global.

Krisis yang telah memasuki minggu kedua ini sebelumnya sempat mengganggu sekitar 20 pasokan minyak dunia dan pangsa pasar gas alam cair (LNG) global. Blokade dimulai menyusul serangan terkoordinasi AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu melalui operasi militer bertajuk "Operation Epic Fury". Menanggapi hal itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sempat menutup jalur pelayaran dan menyerang kapal-kapal yang melintas.

Data dari Lloyd's List Intelligence menunjukkan, lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz sempat anjlok hingga 80 pada awal Maret. Situasi ini memicu lonjakan tarif kapal supertanker rute Timur Tengah ke China hingga lebih dari 94 ke rekor tertinggi sebesar USD423.736 per hari.

Baca Juga:Trump: Perang Iran Hampir Selesai, AS Pertimbangkan Ambil Alih Selat Hormuz

Analis dari RBC Capital Markets bahkan menyebut situasi ini sebagai krisis energi paling signifikan sejak embargo minyak tahun 1970-an. Meskipun Iran sempat bersikap agresif, tanda-tanda pelonggaran blokade mulai terlihat saat Teheran mengizinkan kapal-kapal yang berafiliasi dengan China untuk tetap melintas.

Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal tanker minyak melewati selat tersebut secara aman, membuktikan bahwa blokade Iran tidak sepenuhnya kedap. Harapan perdamaian semakin menguat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan telepon dengan Trump untuk membahas proposal penyelesaian konflik secara cepat. Para investor kini mulai mengantisipasi normalisasi distribusi energi, meskipun ketegangan militer di kawasan tersebut belum sepenuhnya mereda.

Kendati demikian, situasi di lapangan dilaporkan masih sangat volatil. Iran melalui media pemerintahnya menegaskan bahwa pihaknya yang akan menentukan akhir dari peperangan ini, sementara militer AS tetap melanjutkan operasi pengamanan rute maritim di Teluk Persia untuk menjamin kelancaran arus komoditas energi dunia.

Topik Menarik