Harga Minyak Bergejolak, Saham Migas Mana Saja yang Menarik?

Harga Minyak Bergejolak, Saham Migas Mana Saja yang Menarik?

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 11 Maret 2026 - 07:14
share

IDXChannel – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengangkat prospek sektor minyak dan gas (migas).

Analis RHB Sekuritas, Arandi Pradana, tetap merekomendasikan overweight untuk sektor ini.

Dalam riset yang terbit 10 Maret 2026, Arandi menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dipicu eskalasi konflik setelah Israel menyerang fasilitas minyak Iran di Teheran pada 8 Maret.

Serangan tersebut menjadi yang pertama secara langsung menargetkan infrastruktur energi Iran.

Peristiwa itu langsung mendorong harga Brent melonjak hingga di atas USD100 per barel pada perdagangan Senin (9/3/2026) pagi.

Namun, harga kemudian mendingin ke level USD87 per barel pada penutupan Selasa (10/3), meski masih lebih tinggi dibandingkan level sebelum konflik.

RHB menilai perusahaan migas hulu akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari reli harga minyak ini. “Kami tetap menyukai perusahaan hulu seperti MEDC sebagai penerima manfaat utama,” tulis Arandi dalam laporannya.

Selain itu, perusahaan pelayaran tanker juga berpotensi menikmati kenaikan tarif sewa kapal. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) dinilai bisa meraih keuntungan dari lonjakan tarif charter tanker di tengah gangguan rantai pasok energi global.

Lonjakan tarif ini dipicu penutupan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Tarif Very Large Crude Carrier (VLCC) Time Charter Equivalent (TCE) melonjak hingga sekitar USD135.000 per hari, sementara tarif Aframax TCE naik sekitar 126 persen secara tahunan menjadi USD68.000 per hari.

Kenaikan ini bahkan melampaui level saat konflik Laut Merah pada 2023, ketika tarif rata-rata tanker berada di kisaran USD50.000-USD70.000 per hari dengan puncak sekitar USD90.000-USD100.000 per hari.

Meski demikian, RHB mengingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan juga membawa risiko bagi Indonesia.

Sebagai negara pengimpor minyak bersih, lonjakan harga energi dapat meningkatkan risk premium Indonesia dan berpotensi menekan minat investor terhadap IHSG, sekaligus membebani investasi sektor hulu di dalam negeri.

Untuk prospek industri, RHB mempertahankan proyeksi kinerja sektor migas pada 2026 dengan pertumbuhan laba sekitar 65 persen secara tahunan.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) diperkirakan mencatat pertumbuhan laba paling kuat, yakni 121 persen, terutama ditopang kontribusi dari segmen pertambangan.

Sementara itu, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) diperkirakan membukukan pertumbuhan laba sekitar 67 persen, didukung peningkatan volume distribusi gas dan tidak adanya beban penurunan nilai aset.

Kemudian, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) diproyeksikan mencatat pertumbuhan lebih moderat sekitar 10 persen.

RHB juga masih meninjau ulang proyeksi untuk PT Elnusa Tbk (ELSA), meski konsensus Bloomberg memperkirakan perusahaan sejenis dapat mencatat pertumbuhan sekitar 24 persen pada 2026.

Pada kinerja tahun lalu, PGAS dan ELSA melaporkan hasil yang relatif lemah. Laba ELSA tercatat stagnan secara tahunan karena penurunan 36 persen pada segmen hulu, meski bisnis hilir dan jasa penunjang migas membantu menahan penurunan.

Sementara itu, laba PGAS turun 37 persen terutama akibat pencatatan penurunan nilai aset migas sekitar USD100 juta.

Di sisi lain, AKRA dan MEDC hingga kini belum merilis laporan kinerja tahun buku 2025.

Meski demikian, kinerja saham sektor migas tetap mengungguli pasar secara keseluruhan.

Sejak awal tahun, saham-saham migas dalam cakupan riset RHB mencatat kinerja lebih baik 32 persen year to date (YtD) dibandingkan IHSG.

Saham MEDC menjadi pilihan utama RHB.

IHSG sendiri turun sekitar 15,5 persen, sedangkan ELSA memimpin dengan kenaikan sekitar 69 persen, diikuti MEDC yang naik 25 persen dan PGAS yang menguat 13 persen. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik