Pemimpin Tertinggi Iran Dibunuh AS-Israel, Rupiah Terjungkal ke Rp16.868 per USD

Pemimpin Tertinggi Iran Dibunuh AS-Israel, Rupiah Terjungkal ke Rp16.868 per USD

Ekonomi | sindonews | Senin, 2 Maret 2026 - 16:02
share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (2/3/2026), turun 81 poin atau sekitar 0,48 persen ke level Rp16.868 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu pasar bereaksi terhadap eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah.

“Pembunuhan tokoh paling berpengaruh di Iran meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas dan potensi gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur energi global yang sangat penting,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Baca Juga:Mojtaba, Putra Khamenei, Diajukan sebagai Calon Pemimpin Tertinggi Iran

Pasukan Israel melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran pada hari Minggu, dengan rudal dan pesawat menargetkan infrastruktur komando dan pertahanan udara. Teheran menanggapi dengan serangan rudal lebih lanjut ke wilayah Israel dan pangkalan AS di Teluk.Serangan tersebut membuat kapal-kapal rentan terhadap kerusakan tambahan karena rudal menghantam setidaknya tiga kapal tanker di lepas pantai Teluk dan menewaskan seorang pelaut, kata sumber dan pejabat perkapalan pada hari Minggu.

Sebelumnya, Putaran ketiga pembicaraan nuklir tidak langsung AS-Iran berakhir di Jenewa pada hari Kamis tanpa kemajuan yang berarti, dengan Washington meningkatkan pengerahan militernya di kawasan tersebut. Kemungkinan aksi militer tetap ada.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia tidak senang dengan cara Iran bernegosiasi, terdengar samar tentang apakah mungkin atau tidak akan ada perubahan rezim di negara itu, dan menambahkan bahwa Teheran lupa mengucapkan kata-kata emas, "tidak ada senjata nuklir."

Dari sentimen domestik, Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia melanjutkan penguatan ke level 53,8 pada Februari 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di angka 52,6. S&P Global melaporkan bahwa indeks yang menggambarkan aktivitas manufaktur nasional itu menunjukkan adanya ekspansi solid pada kondisi pengoperasian manufaktur yang merupakan ekspansi terbesar sejak Maret 2024.

Peningkatan PMI manufaktur utamanya didorong oleh percepatan pertumbuhan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Permintaan baru naik selama 7 bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan di posisi paling kuat sejak November 2025.

Berdasarkan laporan peserta survei, jumlah pelanggan naik dan kepercayaan diri membaik. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan total permintaan baru terjadi secara luas, seiring produsen manufaktur Indonesia mencatat kembali peningkatan pesanan ekspor baru untuk pertama kali dalam 6 bulan. Kenaikan pada permintaan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak Mei 2022.

Baca Juga:Iran Punya Cadangan Minyak Melimpah, Terbesar ke-3 Dunia setelah Venezuela

S&P Global mencatat meningkatnya penjualan telah mendorong perusahaan menaikkan ketenagakerjaan enam kali dalam 7 bulan pada tingkat tertinggi sejak November 2025. Kenaikan jumlah karyawan membantu manufaktur Indonesia meningkatkan produksi pada Februari 2026. Output mengalami ekspansi pada laju tercepat sejak April 2024.

Ketika terjadi peningkatan, perusahaan mengaitkan hal ini dengan kenaikan permintaan baru. Perusahaan juga mencatat bahwa produksi tambahan digunakan untuk membangun stok untuk bersiap menghadapi kenaikan permintaan mendatang sehingga inventaris pascaproduksi naik selama 4 bulan berjalan.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.860 - Rp16.910 per dolar AS.

Topik Menarik