Donald Trump: 'Khamenei, Salah Satu Orang Paling Jahat dalam Sejarah, Telah Meninggal'
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal. Klaim ini disampaikan beberapa jam setelah serangan militer gabungan AS-Israel terhadap Iran pada Sabtu pagi.
“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah meninggal. Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat, dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia, yang telah dibunuh atau dimutilasi oleh Khamenei dan geng preman haus darahnya,” klaim Trump dalam sebuah unggahan di platform media sosialnya, Truth Social.
Baca Juga: Media Israel: Foto Jenazah Khamenei Ditunjukkan kepada Trump dan Netanyahu
“Dia tidak dapat menghindari intelijen dan sistem pelacakan kami yang sangat canggih dan, bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada yang bisa dia, atau para pemimpin lain yang telah terbunuh bersamanya, lakukan,” imbuh Trump.
“Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka,” lanjut Presiden AS.
Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan ada banyak tanda bahwa Khamenei telah terbunuh. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada NBC News bahwa Khamenei masih hidup. "Sejauh yang saya ketahui," ujarnya. "Semua pejabat tinggi masih hidup," lanjut dia, Minggu (1/3/2026).Ketika ditanya tentang kesehatan Khamenei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baqaei mengatakan kepada BBC bahwa dia tidak dalam posisi untuk mengonfirmasi apa pun. "Tetapi seluruh sistem, seluruh bangsa fokus pada membela integritas nasional (kami)," katanya.
"30 Bom Dijatuhkan di Kediaman Khamenei"
Beberapa serangan pertama AS dan Israel pada hari Sabtu menghantam area dekat kantor Khamenei, meskipun laporan menunjukkan bahwa dia telah dipindahkan ke lokasi yang aman sebelumnya. Citra satelit yang diunggah oleh New York Times menunjukkan kerusakan yang terlihat pada kompleks kediamannya di Teheran, yang juga berfungsi sebagai kediaman resminya.Negara Eropa Ini Berani Menolak Pangkalan Militernya Digunakan Menyerang Iran, Apa Pemicunya?
Jurnalis Amit Segal dari Channel 12 Israel, yang dikenal dekat dengan Netanyahu, mengatakan: "Tiga puluh bom dijatuhkan di kompleks tersebut. Ali Khamenei berada di bawah tanah, tetapi mungkin tidak di bunkernya sendiri."
Setelah serangan tersebut, baik Netanyahu maupun Trump mengisyaratkan perubahan rezim di Iran."Kepada rakyat Iran yang hebat dan bangga, saya katakan malam ini bahwa saat kebebasan Anda sudah dekat. Tetaplah berlindung. Jangan tinggalkan rumah Anda. Di luar sangat berbahaya. Bom akan berjatuhan di mana-mana. Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi," kata Trump setelah serangan tersebut.
Netanyahu juga menyampaikan nada serupa dengan langsung berbicara kepada penduduk Iran. "Kita memiliki musuh bersama, rezim Ayatollah yang kejam yang telah..."
"Mereka telah mengambil alih kekuasaan melalui kekuatan-kekuatan penindas. Merekalah yang telah merendahkan negara Anda yang indah, membawanya ke titik terendah, dan merekalah yang membantai Anda secara massal," katanya.
Serangan pada hari Sabtu berubah menjadi eskalasi militer yang lebih luas setelah Iran menanggapi dengan melancarkan serangkaian serangan terhadap Israel dan negara-negara Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Akhir dari Pemerintahan 36 Tahun?
Ayatollah Ali Khamenei meneruskan kekuasaan dari Ruhollah Khomeini pada tahun 1989 dan, meskipun ada keraguan awal tentang cengkeramannya pada kekuasaan, dia memerintah selama 36 tahun.Tahun-tahun terakhirnya penuh gejolak—kelompok proksi Iran; Hamas dan Hizbullah, melemah karena serangan Israel, serta protes atas kondisi ekonomi yang memuncak pada bulan Januari dan ditanggapi dengan penindakan brutal. Selain itu juga terjadi perang 12 hari Iran dengan Israel pada Juni lalu, yang diikuti serangan AS terhadap tiga situs nuklir Iran.










