Danantara Blak-blakan Soal Opsi Penggabungan Maskapai Garuda, Citilink, dan Pelita Air
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas mengungkapkan beberapa skema pembentukan holding maskapai yang terdiri dari Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air. Ia menjelaskan opsi yang akan dipilih adalah bentuk penggabungan paling efisien bagi perusahaan maskapai milik negara.
Saat ini pihaknya masih melakukan kajian untuk menentukan bentuk yang paling optimal bagi kinerja perusahaan. "Keputusannya nanti berdasarkan hasil akhir: efisiensinya di mana dan berapa. Mana yang lebih efisien, apakah menggabungkan menjadi satu PT atau aliansi co-working, satu kolega saja, kolaborasi saja," ujarnya di Wisma Danantara, Kamis (27/2/2026).
Baca Juga: Profil Perusahaan BUMN Injourney, PT Aviasi Pariwisata Indonesia
IHSG Hari Ini Berpotensi Lanjut Menguat ke Area 8.992-9.018, Simak Analisa 4 Saham Berikut
Rohan mengatakan, penggabungan tiga maskapai tersebut nantinya bisa saja mengubah sistem pemesanan tiket. Jika sebelumnya pemesanan dilakukan di masing-masing maskapai, ke depan dimungkinkan sistem pemesanan terintegrasi dalam satu platform.
"Kalau PT-nya sendiri-sendiri masih bisa, tetapi booking order-nya satu, maintenance-nya satu, ground handling-nya satu, termasuk kru pesawatnya juga menjadi satu," tambahnya.Baca Juga: Garuda Indonesia Gabung InJourney Sebelum Oktober, Bagaimana Beban Utang Jumbo?
Ia menilai jam kerja kru pesawat di perusahaan pelat merah saat ini masih kurang efisien. Dengan penggabungan ketiga maskapai, diharapkan kru dapat ditempatkan di mana saja sesuai kebutuhan operasional.
"Mungkin jam terbang pilot dan pramugari, karena jumlah pesawat sedang menunggu servis, berarti bisa ditempatkan di Citilink, Garuda, atau Pelita. Coba tanya pramugari Super Air Jet atau Lion berapa kali terbang per hari, lalu bandingkan dengan pramugari Garuda atau Citilink berapa kali," lanjutnya.
Ia menyebut target penggabungan tiga maskapai pelat merah itu diharapkan rampung pada 2026 sehingga dapat segera memberi dampak positif terhadap kinerja keuangan Garuda yang saat ini masih memiliki catatan negatif."Hopefully segera di semester I 2026, karena itu sangat krusial untuk mendapatkan extra income tanpa menambah pesawat," katanya.
Menurut Rohan, penggabungan tersebut juga bertujuan agar sesama maskapai negara tidak saling bersaing di rute-rute gemuk saja. Dengan demikian, maskapai milik negara berpeluang melayani rute lain agar konektivitas meningkat.
"Jumlah pesawatnya jadi lebih banyak kalau bergabung. Rute yang sama bisa di masing-masing hanya 60 persen, tetapi kalau digabung penuh bisa optimal. Misalnya tujuan Surabaya yang populer: Citilink ada, Pelita ada, Garuda ada. Kenapa tidak satu flight saja," pungkasnya.










