Iran Tak Ciut Nyali Hadapi AS: Jika Khamenei Dibunuh, Rezim Teheran Tak Akan Runtuh...
Teheran sama sekali tidak takut dengan ancaman perang yang dikobarkan Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa rezim Republik Islam memiliki mekanisme untuk menggantikan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei jika Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk membunuhnya.
"Saya telah melihat saran di media AS tentang pembunuhan Pemimpin Tertinggi, tetapi ini adalah sebuah sistem. Ini adalah mekanisme yang mapan yang ada di dalam sistem itu sendiri, jadi tidak akan ada yang runtuh. Semua orang akan diganti melalui prosedur yang telah ditetapkan," kata Araghchi dalam sebuah wawancara dengan India Today pada hari Rabu.
Baca Juga: Mengapa Negara-negara Arab Ketakutan Jika Perang AS-Iran Pecah? Ini Analisisnya
"Sistem kami tidak bergantung pada individu. Sistem ini didukung oleh rakyat. Jadi, saya sama sekali tidak khawatir. Bahkan di tengah perang, tidak ada yang runtuh, dan kami mampu melanjutkan pertahanan diri kami," katanya lagi.
Hezbollah Akan Gabung dalam Perang
Komentar diplomat top Iran itu muncul setelah seorang pejabat Hizbullah mengatakan kepada AFP pada hari Rabu bahwa kelompok militan Lebanon itu tidak akan terlibat secara militer jika Amerika Serikat melakukan serangan terbatas terhadap Iran.Namun, menurut pejabat tersebut, Hizbullah akan campur tangan jika Amerika Serikat mencoba untuk melukai Khamenei, yang didefinisikan sebagai "garis merah".Sementara itu, Israel telah mengirimkan pesan tidak langsung kepada Lebanon bahwa mereka akan menyerang Lebanon dengan keras, menargetkan infrastruktur sipil, termasuk bandara, jika Hizbullah terlibat dalam perang AS-Iran, kata dua pejabat senior Lebanon pada hari Selasa dalam sebuah wawancara dengan Reuters.
Militer Israel atau IDF telah memberikan pukulan berat kepada Hizbullah selama perang tahun 2024, membunuh pemimpinnya Hassan Nasrallah bersama ribuan milisinya dan menghancurkan sebagian besar persenjataannya.
Pada hari Rabu, IDF merilis laporan yang merinci serangan baru-baru ini terhadap aset teror Hizbullah, yang meliputi peluncur rudal, lokasi pembuatan senjata, dan pusat komando untuk unit elite.
"Selama beberapa bulan terakhir, pasukan IDF telah beroperasi di Lebanon selatan untuk membongkar infrastruktur teroris dan mencegah upaya organisasi teroris Hizbullah untuk mempersenjatai diri kembali," kata IDF.
Menurut laporan tersebut, operasi IDF mencakup serangan terhadap senjata dan infrastruktur, termasuk posisi pengamatan dan penembakan di mana peluncur anti-tank Hizbullah berada.
IDF menyatakan bahwa keberadaan senjata dan milisi di Lebanon selatan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kesepahaman antara Israel dan Lebanon.










