Semprot Parfum di Leher Berisiko Kanker Tiroid? Pakar IPB Bilang Begini
Kebiasaan menyemprotkan parfumdi area leher kerap dilakukan agar aroma bertahan lebih lama. Namun, praktik ini belakangan menimbulkan kekhawatiran karena dinilai berpotensi memengaruhi kelenjar tiroid dan dikaitkan dengan risiko gangguan hormon hingga kanker tiroid.
PakarMultiomics CancerIPB University, dr Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed, menjelaskan bahwa secara ilmiah terdapat indikasi hubungan antara penggunaanparfumdan gangguan kelenjar tiroid, meskipun kaitannya dengan kanker tiroid belum terbukti secara langsung.
Baca juga: Segini Kisaran Biaya Hidup Mahasiswa di Bogor, Camaba IPB Cek!
“Berdasarkan sebuah studi tinjauan sistematis, kebiasaan menyemprotkanparfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid. Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung,” ujarnya.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University itu memaparkan,parfumatau cologne umumnya mengandung bahan kimia sepertiphthalates, parabens,dantriclosan. Bahan-bahan tersebut berpotensi mengganggu sistem hormonal atau sebagai endocrine disruptors.Baca juga: 6 PTN Buka Jalur Khusus Ketua OSIS 2026, Ini Syarat dan Jadwal Pendaftarannya
“Beberapa penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara sejumlah paraben juga berdampak pada keseimbangan sistem endokrin tubuh,” terangnya.
dr Agil menambahkan, bahan-bahan tersebut dapat diserap melalui kulit. Tingkat penyerapan dipengaruhi oleh area pemakaian, frekuensi, serta durasi penggunaan.
“Area leher secara anatomis berada dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki kulit yang relatif tipis, sehingga paparanphthalates, paraben,dantriclosanyang berulang di lokasi ini secara teoritis dapat meningkatkan peluang efek zat tersebut secara lokal maupun sistemik,” jelasnya.
Sinopsis Sinetron Cinta Sepenuh Jiwa Eps 120: Hasbi Berulah Lagi di Resepsi Lala dan Julian
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak tersebut tidak terjadi secara instan dan umumnya berlangsung perlahan. Tidak semua penggunaparfumjuga akan mengalami gangguan kesehatan.“Tidak berarti setiap orang yang memakaiparfumakan sakit. Namun, pemakaian berlebihan dan terus-menerus selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko gangguan hormon, terutama pada ibu hamil, anak-anak dan remaja, serta orang dengan gangguan hormon sebelumnya,” kata dr Agil.
Untuk meminimalkan risiko kesehatan jangka panjang, ia menyarankan masyarakat tetap bijak dalam menggunakanparfum. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menyemprotkanparfumpada pakaian, bukan langsung ke kulit, menghindari pemakaian rutin di area leher atau ketiak, serta menggunakanparfumsecukupnya.
“Jika memungkinkan, pilih produk yang mencantumkan label‘phthalate-free’atau‘paraben-free’,” tutup dr Agil.










