Cara Petinju Top Dunia Cegah Penyusutan Otot saat Puasa Ramadan

Cara Petinju Top Dunia Cegah Penyusutan Otot saat Puasa Ramadan

Olahraga | sindonews | Rabu, 25 Februari 2026 - 16:30
share

Bulan Ramadan menjadi tantangan tersendiri bagi petinju yang tetap menjalani latihan intens. Puasa di siang hari, waktu tidur yang berubah, serta jadwal latihan yang bergeser kerap memicu kekhawatiran akan hilangnya massa otot dan penurunan performa di atas ring.

Namun, bagi para petarung, kondisi ini bukan hal baru. Seperti diungkapkan petinju Inggris-Pakistan, Shabaz Masoud, berlatih dalam kondisi puasa memang berat.

“Ini memang berat. Tidak makan dari pukul tiga pagi sampai malam, jadi sangat sulit.” kata dia.

Baca Juga: Duel Veteran Floyd Mayweather vs Manny Pacquiao Digelar Tahun Ini, Apa Masih Laku?

Secara ilmiah, kekhawatiran itu beralasan. Saat tubuh tidak mendapat asupan dalam waktu lama, proses pemecahan protein otot bisa meningkat, terutama jika latihan tetap dilakukan dengan intensitas tinggi tanpa penyesuaian nutrisi dan pemulihan. Namun, kehilangan otot bukan hal yang pasti terjadi selama strategi dijalankan dengan tepat.Kunci utama menjaga massa otot terletak pada pola makan dan waktu konsumsi nutrisi. Asupan protein yang cukup saat berbuka (iftar) hingga sahur terbukti mampu mempertahankan massa otot, ditambah total kalori harian yang tidak terlalu rendah. Tubuh juga cenderung menggunakan lemak sebagai sumber energi saat puasa, sehingga otot tetap terlindungi.

Selain itu, penyesuaian jadwal latihan sangat krusial. Sesi berat dianjurkan dilakukan mendekati waktu berbuka atau setelah makan, saat tubuh sudah terhidrasi dan memiliki energi. Sementara latihan ringan seperti teknik, footwork, dan peregangan bisa dilakukan saat siang hari untuk menghindari risiko dehidrasi dan cedera.

Pendekatan ini juga selaras dengan pengalaman Aqib Fiaz yang menilai tubuh mampu beradaptasi dalam kondisi ekstrem.

“Tubuh kita adalah mesin bertahan hidup dan selalu menemukan cara untuk bertahan.”

Latihan kekuatan tetap dibutuhkan, meski dengan volume lebih rendah. Cukup 2–3 sesi per minggu dengan durasi singkat untuk menjaga sinyal otot tetap aktif.

Ditambah istirahat yang cukup, petinju justru bisa menjadikan Ramadan sebagai fase pemeliharaan fisik sekaligus pematangan teknik sebelum kembali ke intensitas penuh setelahnya.

Dengan strategi yang tepat, Ramadan bukan penghalang, melainkan momen untuk melatih disiplin, ketahanan mental, dan efisiensi latihan—nilai-nilai yang justru menjadi fondasi utama dalam dunia tinju.

Topik Menarik