Hidden Gem War Takjil di Jaksel, Harga Murah Meriah dan Akses Mudah
Jika biasanya spot berburu takjil berada persis di pinggir jalan, berbeda dengan Kawasan Pasar Santa, Jakarta Selatan, kembali menjadi spot hidden gem bagi para pemburu takjil. Meski matahari masih menggantung, kerumunan warga mulai terlihat memadati kawasan ini sejak pukul 16.30 WIB.
Lokasinya yang berada tepat di depan Pasar Santa dan dikelilingi bangunan komplek yang megah menjadikan area ini sebagai spot hidden gem bagi para pekerja kantoran maupun warga sekitar untuk melakukan "war takjil" sebelum waktu maghrib tiba.
Alasan utama mengapa spot ini begitu diminati adalah aksesnya yang sangat mudah dijangkau dan variasi makanannya yang sangat beragam, dari ujung ke ujung jalan. Seperti yang dirasakan langsung oleh Citra (25), salah satu pembeli setia yang mengaku rutin datang ke lokasi ini karena cukup dekat dan menu jajanan yang lengkap.
Baca Juga : Viral di TikTok, ‘Ramadan di Rantau’ di Senayan Park Diserbu Pemburu Takjil!
"Karena dekat banget tinggal jalan kaki 5 menit nyampai terus makanan, jajanannya lengkap banget dari ujung ke ujung dan murah-murah juga," kata Citra saat ditemui di lokasi, Minggu (22/2/2026).Meski berada di kawasan Jakarta Selatan yang cenderung mahal, harga takjil di depan Pasar Santa tergolong sangat ramah kantong. Dengan uang sepuluh ribu rupiah, pembeli sudah bisa membawa pulang tiga buah gorengan ukuran besar.
Kualitas rasa yang tahan lama juga menjadi alasan mengapa pembeli rela datang setiap hari pada pukul 17.00 WIB demi mendapatkan stok camilan yang masih nikmat disantap hingga larut malam.
Baca Juga : Serunya Berburu Takjil Khas Minang di Senen! Tembusu, Kepala Kakap, dan Bubur Kampiun Jadi Primadona
“Murah karena gorengan Rp10.000 tiga, risol Rp10.000 tiga. Lontongnya sih enak, dia sampai malam pun masih bisa dimakan. Iya, tiap hari pasti jam 5 (ke sini)," ucap dia.
Kisah Haru Nur Ali, Guru di Tapanuli Selatan yang Hibahkan 7.500 Meter Tanahnya untuk Bangun Sekolah
Di antara deretan penjual, lapak gorengan dan es buah menjadi titik yang paling jadi favorit pembeli. Gorengan dianggap sebagai menu "wajib" yang tidak boleh absen di meja makan, bersanding dengan segarnya es buah dan kolak. "Gorengan sih paling penting ya. Karena lapar mata juga gorengan, terus kayak ini candil, kolak itu juga wajib sih," beber Citra.
Seperti di lapak gorengan Ibu Ekowati yang tidak pernah sepi pembeli. Ia menjual berbagai jenis gorengan dan kue basah ditata rapi, namun ada satu menu yang paling cepat ludes diburu pembeli, yaitu risol mayones. Harganya yang murah dan rasanya yang enak menjadikan makanan tersebut ludes dalam waktu singkat.
“Risol mayones telur, risol sayur, pastel, martabak tahu, martabak telur. Yang sering mah risol mayones, Rp10.000 tiga saya jual. Kalau jam-jam kantor ramai, jam-jam menuju jam buka gitu," ungkap Ekowati.
Namun, jika akhir pekan seperti hari ini, Ekowati justru merasakan penurunan pembeli dibanding dengan hari kerja biasa. Menurutnya, keramaian di depan Pasar Santa ini sangat dipengaruhi oleh ritme hari kerja, di mana para pekerja kantoran menjadi pelanggan dominan.
"Murah karena gorengan Rp10.000 tiga, risol Rp10.000 tiga. Lontongnya sih enak, dia sampai malam pun masih bisa dimakan. Iya, tiap hari pasti jam 5 (ke sini)," tutup Citra.










