Tak Hanya Beras Ribuan Ton, Indonesia Setujui Impor 580.000 Ekor Ayam dari AS
Pemerintah Indonesia menyetujui impor 1.000 ton beras klasifikasi khusus dan 580.000 ekor ayam hidup dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari pelaksanaan Agreement on Reciprocal Trade (ART). Kebijakan tersebut diteken Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Donald Trump di Washington DC pada 19 Februari 2026.
"Pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan peternak dalam negeri serta menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional. Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik," ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto seperti dikutip, Senin (23/2/2026).
Baca Juga:Bagian dari Negosiasi Tarif Trump, Indonesia Bakal Impor Beras AS 1.000 Ton
Dia menjelaskan, impor tersebut terbatas pada kategori khusus dan realisasinya bergantung pada kebutuhan dalam negeri. Ia menyebut Indonesia belum pernah mengimpor beras dari AS dalam lima tahun terakhir, sementara komitmen 1.000 ton hanya sekitar 0,00003 dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton pada 2025.
Menurut dia kebijakan ini dinilai tak bertentangan dengan komitmen swasembada beras yang telah dideklarasikan sejak akhir 2025. Impor 580.000 ekor ayam hidup jenis Grand Parent Stock (GPS) dengan estimasi nilai USD17-USD20 juta. Pemerintah menyebut impor ayam ini diperlukan karena Indonesia belum memiliki fasilitas pembibitan indukan utama tersebut.
Tak hanya itu, akses impor juga dibuka untuk produk olahan ayam berupa mechanically deboned meat (MDM) dengan estimasi volume 120.000 hingga 150.000 ton per tahun sebagai bahan baku industri sosis dan nugget. Impor bagian ayam seperti leg quarters, dada, dan paha tetap diperbolehkan sepanjang memenuhi persyaratan kesehatan hewan dan keamanan pangan.
Baca Juga:Efek Beli BBM dan LPG AS Rp253 Triliun, Indonesia Kurangi Impor dari Negara Ini
Mengutip laporan Reuters, kebijakan ini bagian dari kesepakatan dagang ART yang lebih luas. Indonesia berkomitmen mengimpor sekitar USD33 miliar produk energi, pertanian, dan kedirgantaraan AS, sementara AS menurunkan tarif resiprokal untuk sebagian besar produk Indonesia serta memberikan pembebasan tarif bagi komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, kakao, dan kopi.









